Skip to main content

Pengenalan Budaya melalui Sandiwara Panggung

Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin merebak, ditambah pula dengan kencangnya arus budaya asing yang masuk ke Indonesia, semakin mengikis perlahan pengetahuan anak-anak mengenai budaya bangsa sendiri. Termasuk pengenalan pada sandiwara panggung.
Program pengenalan budaya bangsa lewat panggung sandiwara, sebenarnya telah dirancang Miss Tjitjih, dan dikembangkan oleh Kerensa Dewantoro untuk menghasilkan penonton baru dengan membiasakan siswa dengan unsur-unsur budaya Indonesia yang kaya dan menakjubkan.
Kerensa merupakan praktisi seni dan pendidik yang ingin agar menonton pertunjukkan teater secara langsung dan melakukan lokakarya sebagai salah satu cara untuk menyatukan berbagai elemen kurikulum.
“Bangunan karakter merupakan salah satu aspek saat anak mengembangkan empati melalui pengalaman bersama. Selain itu, lokakarya ini membantu mengembangkan pemahaman tentang kompleksitas tradisi pertunjukan Indonesia,” tutur Kerensa.
Ini adalah kali kedua sekolah Cita Buana membawa murid-muridnya ke Miss Tjitjih. Selain bertambah pengetahuan mengenai tradisi pertunjukan Indonesia, lokakarya ini juga dapat membantu siswa untuk menjadi peserta pembelajaran yang mendalam, terlibat, dan aktif daripada pasif.
Siswa ini juga dibekali dengan berbagai kesempatan untuk mempelajari musik gamelan dengan pengenalan alat musik dan memainkan nada-nada dasarnya sehingga membentuk harmoni,membuat topeng dari tanah liat dan koran yang sering digunakan dalam pertunjukan yang membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk topeng tersebut kering, menjahit mute-mute sebagai salah satu pembekalan dalam membuat kostum pertunjukan, belajar menari jaipong dasar, serta mempelajari teknik make up seram yang menjadi andalan Miss Tjitjih.
Harus Berjuang Keras
Eksistensi dunia pertunjukan teater memang sudah tidak terlalu sepopuler dahulu tetapi ini tidak berarti grup pertunjukan teater terbengkalai termasuk grup teater Miss Tjitjih yang sudah ada di Indonesia secara turun temurun sejak 1928.
Pertunjukan seni teater merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia yang harus tetap dilestarikan. Namun sayangnya, tidak begitu banyak anak muda zaman sekarang yang tertarik dengan dunia seni teater terutama kisah-kisah pewayangan yang sarat akan budaya Indonesia yang kental.
“Sekarang saingannya berat, apalagi kalau untuk pewayangan. Tidak seperti dulu. Kalau anak-anak sekarang latihan bukannya memperhatikan kebanyakan lihatnya handphone,” terang Imas Darsih, sutradara pementasan Miss Tjitjih.
Untuk itu ia pun harus berjuang keras agar ceritanya disukai sehingga lebih mudah masuk ke benak para pemain khususnya yang masih muda. Selain itu, agar pertunjukan seni teater dapat terus menarik perhatian penonton khususnya penonton muda mau tidak mau harus mengalah mengikuti perkembangan zaman.
“Apalagi berada di kota besar seperti (Jakarta) begini, harus ikut perkembangan zaman. Harus mengalah tetapi tradisinya tetap tidak hilang,” ujar Imas.
Dahulu pementasan yang dilakukan Miss Tjitjih menggunakan bahasa Sunda, namun hal itu perlahan bergeser menjadi menggunakan bahasa Indonesia dikarenakan banyaknya masyarakat Jakarta yang tidak mengerti bahasa Sunda apalagi generasi muda.
Imas menuturkan bahwa kesulitan untuk mengerti kebutuhan anak-anak muda zaman sekarang agar tetap mencintai budaya Indonesia khususnya seni pertunjukan teater. “Kadang suka berpikir anak zaman sekarang apa sih, karena tanggung jawabnya besar untuk (memajukan) tradisi ini,” tuturnya.
Sehingga mau tidak mau, Imas memutar otak untuk menggabungkan tradisi yang sudah turun temurun ada di Miss Tjitjih dan mengembangkannya menjadi karya yang lebih modern.
Ia berharap anak-anak zaman sekarang khususnya generasi millenial dapat mencintai kesenian Indonesia dan mewariskannya ke pada generasi selanjutnya. “Karena ini warisan nenek moyang kita jangan sampai hilang meskipun bisa dikolaborasikan dengan kebudayaan orang luar, tetapi awalnya adalah dari tradisi kita sendiri. Seperti kesenian Bali yang sudah ke mana-mana itu, keberagaman kita tolonglah dihargai,” tutupnya.
Trik Ciptakan Kesan Horor
Miss Tjitjih merupakan grup pementasan teater legendaris Indonesia, khususnya Jakarta yag sudah berkibar sejak 89 tahun lalu. Grup ini diawali oleh Aboebakar Bafaqih yang merupakan pemilik Sandiwara Keliling yang mengadakan pertunjukan keliling di Jawa Barat hingga akhirnya bertemu dengan perempuan cantik serba bisa bernama Tjitjih di Sumedang.
Tjitjih diceritakan bisa menari, menyanyi, dan bersandiwara dan mampu mendatangkan banyak penonton karena keahliannya itu. Ia pun mengajak Tjitjih untuk ikut ke grupnya yang bernama Valencia agar semakin dikenal orang banyak.
Orang Belanda pun kala itu senang menonton pertunjukkan yang ditampilkan oleh Tjitjih sehingga kerap memanggilnya dengan “Miss Tjitjih” yang menjadi dasar nama teater ini.
“Jadi Miss Tjitjih yang terkenal dari namanya itu, ‘Miss’ pemberian dari orang Belanda yang senang menonton pertunjukkannya. Hingga kalau ada pertunjukkan pasti selalu bertanya, ‘Ada Miss Tjitjih tidak?’” cerita Imas Darsih, sutradara pementasan Miss Tjitjih.
Ia berharap anak-anak zaman sekarang khususnya generasi millenial dapat mencintai kesenian Indonesia dan mewariskannya ke pada generasi selanjutnya. “Karena ini warisan nenek moyang kita jangan sampai hilang meskipun bisa dikolaborasikan dengan kebudayaan orang luar, tetapi awalnya adalah dari tradisi kita sendiri. Seperti kesenian Bali yang sudah ke mana-mana itu, keberagaman kita tolonglah dihargai,” tutupnya.
Trik Ciptakan Kesan Horor
Miss Tjitjih merupakan grup pementasan teater legendaris Indonesia, khususnya Jakarta yag sudah berkibar sejak 89 tahun lalu. Grup ini diawali oleh Aboebakar Bafaqih yang merupakan pemilik Sandiwara Keliling yang mengadakan pertunjukan keliling di Jawa Barat hingga akhirnya bertemu dengan perempuan cantik serba bisa bernama Tjitjih di Sumedang.
Tjitjih diceritakan bisa menari, menyanyi, dan bersandiwara dan mampu mendatangkan banyak penonton karena keahliannya itu. Ia pun mengajak Tjitjih untuk ikut ke grupnya yang bernama Valencia agar semakin dikenal orang banyak.
Orang Belanda pun kala itu senang menonton pertunjukkan yang ditampilkan oleh Tjitjih sehingga kerap memanggilnya dengan “Miss Tjitjih” yang menjadi dasar nama teater ini.
“Jadi Miss Tjitjih yang terkenal dari namanya itu, ‘Miss’ pemberian dari orang Belanda yang senang menonton pertunjukkannya. Hingga kalau ada pertunjukkan pasti selalu bertanya, ‘Ada Miss Tjitjih tidak?’” cerita Imas Darsih, sutradara pementasan Miss Tjitjih.
Pertunjukan yang ditampilkan pun oleh Miss Tjitjih pun beragam, mulai dari kisah romansa, pewayangan, keagamaan, silat, dan horor. Namun yang menjadi spesialis dalam pertunjukan Miss Tjitjih adalah kisah horornya.
“Setiap pementasan pasti ada horornya karena yang terkenal dari Miss Tjitjih adalah ya horornya,” ujar Imas.

Dua yang menjadi andalan cerita horor Miss Tjitjih adalah cerita tentang Si Manis Jembatan Ancol dan Beranak Dalam Kubur. Bahkan kedua judul itu pun dibeli oleh salah satu rumah film bertahun-tahun silam untuk dijadikan film bioskop. Imas mengatakan kengerian yang diciptakan Miss Tjitjih tentunya memiliki nilai poin plus sendiri. Di mana kalau di film-film untuk menciptakan kengerian biasanya melalui efek kamera atau editing, sementara untuk pertunjukan teater kengerian yang dibuat langsung dilihat mata penonton.
“Seperti misalnya ada kuntilanak yang terbang ke mana-mana, atau salah satu pertunjukan yang menampilkan anak kecil ke luar dari dalam perut seorang wanita. Kalau di film bisa diedit, kalau di teater kan tidak bisa, jadi harus pakai triknya,” terangnya.
Miss Tjitjih yang kini sudah mendapat bantuan dari Dewan Kesenian Jakarta dan Kemendikbud rencananya akan kembali mengadakan pertunjukan pada Februari mendatang dengan 19 pementasan.

Comments

Artikel Populer

"Sandiwara Radio Reborn " Mengembalikan kejayaan Sandiwara Radio untuk Sosialisasi Bencana

Pernah dengar kisah Brama Kumbara ? Itu lho sandiwara radio yang populer di era tahun 1980-an akhir. Nah semenjak Warkop Reborn sukses, sekarang sandiwara radio juga ikut reborn, tentu dengan cerita dan gaya yang menyesuaikan nuansa jaman. Upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB dalam sosialisasi siaga bencana melalui sandiwara radio pantas diacungi jempol. Tentu BNPB  sudah melakukan kajian yang matang dengan keberaniannya melakukan terobosan dalam melakukan sosialisasi siaga bencana. Sandiwara radio pernah mendapat tempat di hati pendengar Indonesia di era 1980-hingga 1990 an. Apalagi BNPB menggandeng S Tijab, seorang maestro penulis naskah sandiwara Tutur Tinular yang cukup terkenal pada masa itu. Sepertinya romantisme kesuksesan sandiwara radio pada masa itu ingin diangkat kembali oleh BNPB di era globalisasi ini. Saya sendiri ketika sandiwara radio booming pada era 1980an hingga awal 1990an cukup antusias mengikuti ceritanya seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinul...

Sejarah Sandiwara di kota kelahiran saya

Sandiwara Sunda di Majaléngka berkembang sejak awal tahun 1930-an. Seni pertunjukan berbentuk teater ini digemari oleh semua lapisan masyarakat pada waktu itu. Beberapa perkumpulan atau grup kesenian sandiwara Sunda pernah berdiri, antara lain di Jatiwangi (Mirah Delima, Medal Kawangi, Kutawaringin), Majaléngka (Budaya Sunda), Dawuan (Gaya Remaja). Di Darmalarang, Malongpong, Munjul, dan Karayunan pun pernah pula berdiri beberapa kelompok sandiwara. Himpunan Barudak (HB) adalah kelompok sandiwara yang pertama kali berdiri di wilayah Majaléngka. Kelompok ini dipimpin oleh Karma Al Habe dari Gandu Kecamatan Dawuan. Pada perkembangan selanjutnya kelompok ini mengganti nama menjadi Gaya Remaja dan bermarkas di Kasokandel. Pada tahun 1960 sampai tahun 1980-an di Kadipaten dan Majaléngka pernah berdiri gedung-gedung pertunjukan Sandiwara. Gedung pertunjukan yang pernah berdiri di Kadpaten bernama Serbaguna. Beberapa kelompok sandiwara yang melakukan pertunjukan di gedung ini antaranya ...

Kesenian Tradisional Cirebon Yang Hampir Punah

Cirebon  selain terkenal akan kesultanannya juga lekat dengan berbagai kesenian rakyat. Sayangnya beberapa kesenian tradisional ini hampir punah karena tergerus jaman. Kesenian tradisional ini dulunya digunakan oleh  Sunan Gunung Jati  dan Wali Songo lainnya untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Selain itu kesenian ini juga digunakan sebagai alat diplomasi ketika Kesultanan Cirebon terancam kalah oleh serangan kerajaan lainnya. Oleh karena itu patut bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang  kesenian tradisional        Cirebon  yang hampir punah ini. Minat generasi penerus yang kurang hingga tergerus oleh kesenian modern lainnya, membuat pelaku seni tradisional ini kian sedikit dan sampai sekarang hampir punah. Misalnya Tarling yang terkenal di tahun 50-an mulai tergerus jaman seiring hadirnya musik dangdut. Selain tarling ada beberapa  kebudayaan Cirebon  dan tradisi Cirebon yang hampir punah yang akan diulas...