Skip to main content

"Sandiwara Radio Reborn " Mengembalikan kejayaan Sandiwara Radio untuk Sosialisasi Bencana

Pernah dengar kisah Brama Kumbara ? Itu lho sandiwara radio yang populer di era tahun 1980-an akhir. Nah semenjak Warkop Reborn sukses, sekarang sandiwara radio juga ikut reborn, tentu dengan cerita dan gaya yang menyesuaikan nuansa jaman.

Upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB dalam sosialisasi siaga bencana melalui sandiwara radio pantas diacungi jempol. Tentu BNPB  sudah melakukan kajian yang matang dengan keberaniannya melakukan terobosan dalam melakukan sosialisasi siaga bencana. Sandiwara radio pernah mendapat tempat di hati pendengar Indonesia di era 1980-hingga 1990 an. Apalagi BNPB menggandeng S Tijab, seorang maestro penulis naskah sandiwara Tutur Tinular yang cukup terkenal pada masa itu. Sepertinya romantisme kesuksesan sandiwara radio pada masa itu ingin diangkat kembali oleh BNPB di era globalisasi ini.

Saya sendiri ketika sandiwara radio booming pada era 1980an hingga awal 1990an cukup antusias mengikuti ceritanya seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinular. Saya yakin hampir sebagian besar masyarakat pada jaman itu masih terkenang kisah-kisah heroisme lakon-lakon dalam sandiwara radio. Namun sayang memang ketika cerita tersebut diangkat ke layar bioskop tidak sesukses di radio. Disinilah terjadi distorsi cerita sehingga ketika divisualkan dianggap kurang menarik. Ditambah penonton harus membayar untuk menonton film, sementara ketika mendengarkan radio mereka dapat dengan cuma-cuma.

Era sekarang memang sudah bergeser, dengan kemajuan teknologi, siaran radio sudah bergeser ke televisi dan  ke internet. Di era tahun 2000an ini radio memang masih memiliki tempat, namun tidak sebanyak tahun 1980an hingga awal 1990. Dulu hampir semua orang punya radio dan sangat sedikit orang memiliki televisi, apalagi computer, HP waktu itu masih sedikit. Namun sekarang kondisi sudah bergeser hampir 150 juta orang Indonesia mengakses HP dan lebih dari 100 juta terhubung dengan internet. Sementara tren pendengar radio semakin lama kian tergerus.
Era sekarang memang sudah bergeser, dengan kemajuan teknologi, siaran radio sudah bergeser ke televisi dan  ke internet. Di era tahun 2000an ini radio memang masih memiliki tempat, namun tidak sebanyak tahun 1980an hingga awal 1990. Dulu hampir semua orang punya radio dan sangat sedikit orang memiliki televisi, apalagi computer, HP waktu itu masih sedikit. Namun sekarang kondisi sudah sudah bergeser hampir 150 juta orang Indonesia mengakses HP dan lebih dari dari dari 100 juta terhubung dengan internet. Sementara tren pendengar radio semakin lama kian tergerus.

Mengingat kondisi tersebut, saya mengapreasi upaya BNPB membuat cerita Asmara Di Tengah Bencana untuk sarana sosialisasi pada masyarakat terhadap bencana. Apalagi cerita ini akan ditayangkan di 20 radio di pulau Jawa yang termasuk pulau rawan bencana khususnya banjir dan gunung meletus. Secara substansi langkah tersebut bisa dijalankan namun harus didukung dengan berbagai media sehingga lebih luas jangkauannya. Kiat-kiat yang perlu dilakukan agar siaran sandiwara radio ini efektif antara lain:
Mengingat kondisi tersebut, saya mengapreasi upaya BNPB membuat cerita Asmara Di Tengah Bencana untuk sarana sosialisasi pada masyarakat terhadap bencana. Apalagi cerita ini akan ditayangkan di 20 radio di pulau Jawa yang termasuk pulau rawan bencana khususnya banjir dan gunung meletus. Secara substansi langkah tersebut bisa dijalankan namun harus didukung dengan berbagai media sehingga lebih luas jangkauannya. Kiat-kiat yang perlu dilakukan agar siaran sandiwara radio ini efektif antara lain:
Mengingat kondisi tersebut, saya mengapreasi upaya BNPB membuat cerita Asmara Di Tengah Bencana untuk sarana sosialisasi pada masyarakat terhadap bencana. Apalagi cerita ini akan ditayangkan di 20 radio di pulau Jawa yang termasuk pulau rawan bencana khususnya banjir dan gunung meletus20 radio di pulau Jawa yang  termasuk pulau rawan bencana khususnya banjir dan gunung meletus. Secara substansi langkah tersebut bisa dijalankan namun harus didukung dengan berbagai media sehingga lebih luas jangkauannya. Kiat-kiat yang perlu dilakukan agar siaran sandiwara radio ini efektif antara lain:

Pertama,  dibuat serialnya supaya dapat diakses dengan mp3 dan dibagikan secara gratis di sosial media. Jadi setelah tayang di radio, cerita tersebut disebarluaskan dalam bentuk mp3 melalui internet. Netisen dapat mengunduh cerita tersebut secara gratis, karena bisa jadi tidak semua orang bisa mengakses radio ketika diudarakan. Sehingga masyarakat tidak terkekang waktu harus mendengar radio sesuai dengan jadwal tayang.

Kedua, dibuat dalam bentuk ebook, cerita sandiwara radio digandakan ddalam format E book kemudian dibagikan dalam web milik BNPB sehingga orang akan mengunduhnya sekaligus mensosialisasikan informasi yang ada di BNPB. Hal ini mengingat sebagian orang lebih suka membaca ketimbang mendengarkan. Hal ini akan mempertlus area tak sekadar sebagai pendengar tapi juga pembaca.

Ketiga, diadakan kuis, agar pendengar antusias mengikuti jalan certa sandiwara. Pemenang kuis diumumkan pada periode sandiwara berikutnya. Kuis ini kontennya bisa cerita tersebut atau tip dan trik penanganan bencana. Dengan adanya kuis maka akan membentuk pendengar yang loyal dan akan mengikuti cerita dengan seksama.

Keempat, membuat komunitas. Di era digital sekarang komunitas sebagai bentuk untuk menjaga loyalitas. Nah BNPB harus mewadahi mereka ini dalam komunitas misalnya bernama komunitas peduli bencana atau penggemar sandiwara radio.  Caranya dengan membuat grup di facebook, milis, atau fan page dan sebagainya. Komunitas ini anggotanya tidak hanya pendengar radio saja, tapi juga pendengar versi mp3, e book dan sebagainya. Dengan komunitas ini akan membuat partisiapasi masyarakat terhadap bencana semakin besar.

Kelima, promosikan kegiatan sosialisasi melalui sandiwara radio ini secara terus menerus , misal dengan media sosial yang berbiaya murah. Terus kelola mereka dengan membentuk akun baik di Fb, twiter goggle plus, instagram dan sebagainya. Dengan adanya promosi maka akan memperluas informasi dan jangkauan.

Insyaallah dengan ditunjang 5 kiat diatas sandiwara radio yang akan digelar BNPB akan lebih efektif dan menjangkau lebih banyak kalangan. Dengan demikian tak hanya sekadar menyasar kalangan pendengar radio yang terbatas tapi juga seluruh lapisan masyarakat. Semoga kegiatan ini mampu menggugah kepedulian masyarakat terhadap bencana dan partisipasi rakyat dalam mencegah atau menanggulangi bencana alam di negeri ini.

Demikianlah “Artikel tentang ( Sandiwara Radio Reborn ) mengembalikan kejayaan sandiwara radio untuk sosialisasi bencana“ Tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyak nya atas ketersediaannya membaca artikel yang kami buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Program Teknologi Informasi (PTI) . Tentunya masih banyak kekurangan karena berbagai keterbatasan kami baik itu berupa pengetahuan maupun bahan referensi, oleh karena itu masukan berupa saran dan kritikan sangat kami harapkan

Semoga bermanfaat buat kalian , Terima kasih.






Comments

Artikel Populer

Sejarah Sandiwara di kota kelahiran saya

Sandiwara Sunda di Majaléngka berkembang sejak awal tahun 1930-an. Seni pertunjukan berbentuk teater ini digemari oleh semua lapisan masyarakat pada waktu itu. Beberapa perkumpulan atau grup kesenian sandiwara Sunda pernah berdiri, antara lain di Jatiwangi (Mirah Delima, Medal Kawangi, Kutawaringin), Majaléngka (Budaya Sunda), Dawuan (Gaya Remaja). Di Darmalarang, Malongpong, Munjul, dan Karayunan pun pernah pula berdiri beberapa kelompok sandiwara. Himpunan Barudak (HB) adalah kelompok sandiwara yang pertama kali berdiri di wilayah Majaléngka. Kelompok ini dipimpin oleh Karma Al Habe dari Gandu Kecamatan Dawuan. Pada perkembangan selanjutnya kelompok ini mengganti nama menjadi Gaya Remaja dan bermarkas di Kasokandel. Pada tahun 1960 sampai tahun 1980-an di Kadipaten dan Majaléngka pernah berdiri gedung-gedung pertunjukan Sandiwara. Gedung pertunjukan yang pernah berdiri di Kadpaten bernama Serbaguna. Beberapa kelompok sandiwara yang melakukan pertunjukan di gedung ini antaranya ...

Kesenian Tradisional Cirebon Yang Hampir Punah

Cirebon  selain terkenal akan kesultanannya juga lekat dengan berbagai kesenian rakyat. Sayangnya beberapa kesenian tradisional ini hampir punah karena tergerus jaman. Kesenian tradisional ini dulunya digunakan oleh  Sunan Gunung Jati  dan Wali Songo lainnya untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Selain itu kesenian ini juga digunakan sebagai alat diplomasi ketika Kesultanan Cirebon terancam kalah oleh serangan kerajaan lainnya. Oleh karena itu patut bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang  kesenian tradisional        Cirebon  yang hampir punah ini. Minat generasi penerus yang kurang hingga tergerus oleh kesenian modern lainnya, membuat pelaku seni tradisional ini kian sedikit dan sampai sekarang hampir punah. Misalnya Tarling yang terkenal di tahun 50-an mulai tergerus jaman seiring hadirnya musik dangdut. Selain tarling ada beberapa  kebudayaan Cirebon  dan tradisi Cirebon yang hampir punah yang akan diulas...