Sandiwara dengan segala macam bentuknya begitu marak di kalangan kaum muslimin, bahkan sudah menjadi bagian kehidupan mereka, begitu banyak pakar-pakarnya dan sarana-sarana penayangannya : di radio, televisi, panggung-panggung pertunjukan, dan bahkan di semua tempat.
Sandiwara begitu banyak menyibukkan kehidupan kaum muslimin: sebagi pemain, pendengar, dan pemirsa, bahkan banyak sekolah-sekolah sandiwara di lembaga pendidikan maupun di sanggar-sanggar yang menelorkan para pemain-pemain panggung, artis-artis film maupun sinetron, bahkan sandiwara dengan segala bentuknya merupakan sarana yang empuk untuk mengeruk keuntungan yang besar.
Di samping itu banyak dari jama’ah-jama’ah dakwah yang menjadikan sandiwara sebagai sarana dakwah mereka, bahkan menjadi “ ketrampilan wajib “ bagi da’i-da’i mereka.
Begitu dalam pengaruh sandiwara ini ke dalam tubuh kaum muslimin sehingga siapa yang tidak suka kepadanya dikatakan sebagai orang yang ketinggalan jaman.
Karena inilah maka kami melihat pentingnya menjelaskan kedudukan sandiwara dalam pandangan syar’I, karena setiap gerak-gerik seorang muslim wajib berlandaskan aturan-aturan syar’I dan berada dalam ruang lingkup adab-adab Islami.
ASAL USUL SANDIWARA
Sandiwara pada awalnya merupakan bagian dari ritual orang-orang Yunani yang menganut paganisme ( penyembahan kepada berhala ) sebagaimana dalam Mu’jam Mufashshal 2/1149-1150 .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan dalam kitabnya Iqtidha’ Shirathal Mustaqim 1/478 apa yang dilakukan oleh orang-orang Nashara pada perayaan hari raya mereka, mereka mengeluarkan daun-daun Zaitun dan yang semisalnya dengan maksud untuk menyerupai perbuatan Al-Masih ketika masuk ke Baitul Maqdis.
Kemudian berkembanglah sandiwara ini di gereja-gereja sebagai bagian dari ritual gereja dengan nama tragedi dan teater.
Pada abad kelima belas Hijriyyah sekarang ini berkembanglah model-model sandiwara Islami di lembaga-lembaga pendidikan Islam bahkan di jama’ah-jama’ah dakwah, bahkan banyak dijumpai group-group teater “ Islami “. Mereka tidak segan-segan memerankan para tokoh-tokoh Islam dari kalangan ulama terdahulu sampai para sahabat, bahkan para nabi dan malaikat !.
MACAM-MACAM SANDIWARA
Sandiwara secara umum terbagi menjadi dua bagian :
1. Sandiwara agama yang terbagi menjadi dua :
a. Tragedi, untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa duka.
b. Teater
2. Sandiwara yang bersifat hiburan terbagi menjadi dua :
a. Komedi, untuk menggambarkan hal-hal yang lucu.
b. Melodrama atau Drama, untuk menggambarkan hal-hal yang menegangkan.
Kemudian berkembanglah nama-nama Islami untuk model-model sandiwara, seperti sandiwara Islami, teater Islami, sinetron Islami, drama Islami, …
SYUBHAT-SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Di antara syubhat-syubhat mereka-mereka yang membolehkan sandiwara sebagi sarana dakwah :
1. Mereka mengatakan hukum sandiwara pada asalnya mubah.
2. Mereka mengatakan sandiwara adalah salah satu sarana tarbiyah dan pendidikan.
3. Mereka mengatakan bahwa sandiwara adalah salah satu sarana untuk menampakkan keagungan Islam dan keagungan tokoh-tokohnya.
4. Mereka mengatakan bahwa sandiwara salah satu bentuk permisalan, sedangkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah banyak terdapat permisalan-permisalan.
5. Mereka mengqiyaskan sandiwara dengan penampakan malaikat Jibril kepada Rasulullah dalam wujud seorang manusia.
Maka jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat di atas adalah :
1. Pendapat yang mengatakan bahwa hukum asal sandiwara adalah mubah tidak bisa diterima, karena sandiwara haram dari asalnya, asalnya adalah dari peribadahan paganisme Yunani dan Nashara, sedangkan Islam berlepas diri darinya.
2. Pendapat yang mengatakan bahwa sandiwara adalah salah satu sarana tarbiyah dan pendidikan adalah pendapat yang keliru, karena sarana tarbiyyah tidak boleh mengandung kemungkaran, sedangkan dalam sandiwara di dalamnya begitu banyak kemungkaran-kemungkaran sebagaimana dalam uraian terdahulu.
3. Pendapat yang mengatakan bahwa sandiwara adalah salah satu sarana untuk menampakkan keagungan Islam dan keagungan tokoh-tokohnya, maka ini juga pendapat yang salah, karena sarana-sarana untuk mendukung agama harus lepas dari segala kebid’ahan dan hal-hal yang baru. Dakwah ilallah adalah tauqifiyyah ( wajib berdasar kepada dalil ) dalam sarana dan tujuannya, sedangkan sandiwara adalah perkara baru dan bid’ah.
4. Adapun mengqiyaskan sandiwara dengan permisalan-permisalan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka ini adalah qiyas yang rusak karena adanya perbedaan antara kedua hal yang dikiaskan, karena permisalan-permisalan dalam Kitab dan Sunnah adalah berupa perkataan, sedangkan sandiwara adalah perbuatan, lalu bagaimana keduanya dikiaskan. Kemudian permisalan-permisalan dalam Kitab dan Sunnah adalah suatu kebenaran, sedangkan sandiwara adalah kedustaan-kedustaan.
5. Adapun mengqiyaskan sandiwara dengan penampakan Jibril kepada Rasulullah dalam wujud seorang manusia, maka ini juga qiyas yang rusak dengan perincian-perincian di bawah ini :
Bahwasanya kemampuan untuk berubah menjadi wujud yang lain adalah termasuk kekhususan alam ghaib dari alam nyata, Alloh telah memberikan kemampuan kepada para malaikat untuk menjelma menjadi wujud-wujud yang lain dengan dengan penjelamaan yang sempurna, sebagaimana datang dalam nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah :
Alloh menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Jibril datang kepada Maryam dalam wujud seorang manusia :
فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
“lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.. “ ( Maryam : 17 ).
Malaikat juga pernah datang kepada Ibrahim dalam wujud seorang manusia.
Jibril pernah datang kepada Rasulullah dalam wujud yang berbeda-beda, pernah dalam wujud Dihyah Al-Kalby dan pernah dalam wujud seorang Baduwi.
Alloh juga memberi kemampuan kepada jin dan syaithan untuk menjelma menjadi bentuk manusia atau binatang.
Seperti datangnya syaithan kepada orang-orang musyrik pada waktu perang Badar dalam wujud Suraqah bin Malik.
Jin bisa menjelma menjadi anjing atau ular dan sebagainya.
Maka ini semua adalah perubahan wujud yang sebenarnya yang Alloh taqdirkan pada alam ghaib dari para malaikat, jin dan syaithan, semua itu sebagai ujian dan hikmah-hikmah lain di sisi Alloh , kemampuan untuk penjelmaan yang sempurna ini tidak pernah terjadi pada seorang manusia di alam nyata, tetapi hanya berlaku bagi alam ghaib.
Karena inilah maka mengqiyaskan alam nyata atas alam ghaib adalah qiyas yang rusak. Wallohu A’lam.
( Pembahasan ini disarikan dari kitab At-Tamtsil oleh Syaikh Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid cetakan pertama tahun 1411 H ).
PENUTUP
Sebagai kesimpulan bahwa sandiwara pada asalnya adalah ritual paganisme Yunani dan Nashara, jika dia dijadikan sebagai sarana dakwah maka dia adalah sarana yang bid’ah yang diharamkan oleh syari’at, karena ibadah adalah tauqifiyyah, yaitu wajib berlandaskan atas nash yang shahih.
Sandiwara tidak pernah lepas dari kedustaan, sedangkan dusta adalah perbuatan yang diharamkan, dan jiwa manusia wajib dibiasakan berbuat jujur dan meninggalkan kedustaan, maka cerita-cerita dusta akan melatih jiwa untuk berdusta dan tidak meninggalkan perbuatan dusta.
Jika sandiwara ini menggambarkan suatu kejadian nyata maka ini termasuk المحاكاة ( menirukan perbuatan orang lain ) yang dilarang secara mutlak oleh Rasulullah dan merupakan pelanggaran kehormatan yang diharamkan.
Sandiwara juga merupakan sarana perusak aqidah dan akhlaq manusia dan sekaligus merupakan penyebar kemaksiatan-kemaksiatan.
Maraknya sandiwara, teater, dan yang semisalnya di kalangan kaum muslimin merupakan bukti kerusakan umat Islam, bahwasanya mereka tenggelam dalam permainan dan kelalaian, dan lemah dalam agama, kosong dari ilmu syar’i dan malas untuk mempelajarinya, maka maraknya sandiwara adalah salah satu dari program musuh-musuh Islam untuk menguasai Islam dengan menyibukkan mereka pada hal-hal yang madharat dan merusak akhlaq mereka.
Perusakan akhlaq adalah salah satu program utama Yahudi sebagaimana dalam Protokolat Zionisme : “ Wajib bagi kita untuk merusak akhlak manusia di semua tempat, sehingga kita mudah untuk menguasai mereka, dinampakkan hubungan sex di bawah terik matahari agar tidak tersisa satupun kesucian dalam pandangan para pemuda, dan jadilah tujuan utama mereka adalah memuaskan nafsu birahi mereka, pada saat itulah longsorlah akhlaq mereka “.
Sejarah membuktikan bahwa tenggelam dalam acara-acara lucu dan pertunjukan adalah salah satu pertanda kelemahan dan kehancuran suatu negara. Inilah Al-Musta’shim khalifah terakhir dari Bani Abbasiyyah di Baghdad dikenal sangat gemar kepada pertunjukan-pertunjukan yang lucu, dan menghabiskan banyak hari-harinya bersama pertunjukan tersebut sebagaimana diceritakan dalam Al-Fakhry hal. 144 dan Tarikh Abil Fida’ 3/176.
Demikianlah jika sunnah telah mati maka muncullah bid’ah-bid’ah, ketika kesungguhan dan azam telah lemah, maka maraklah kelemahan dan kemalasan dalam umat.
Ya Alloh bangunkanlah kaum muslimin dari kelalaian mereka, dan perbaikilah keadaan mereka !.
والله أعلم بالصواب
Sandiwara begitu banyak menyibukkan kehidupan kaum muslimin: sebagi pemain, pendengar, dan pemirsa, bahkan banyak sekolah-sekolah sandiwara di lembaga pendidikan maupun di sanggar-sanggar yang menelorkan para pemain-pemain panggung, artis-artis film maupun sinetron, bahkan sandiwara dengan segala bentuknya merupakan sarana yang empuk untuk mengeruk keuntungan yang besar.
Di samping itu banyak dari jama’ah-jama’ah dakwah yang menjadikan sandiwara sebagai sarana dakwah mereka, bahkan menjadi “ ketrampilan wajib “ bagi da’i-da’i mereka.
Begitu dalam pengaruh sandiwara ini ke dalam tubuh kaum muslimin sehingga siapa yang tidak suka kepadanya dikatakan sebagai orang yang ketinggalan jaman.
Karena inilah maka kami melihat pentingnya menjelaskan kedudukan sandiwara dalam pandangan syar’I, karena setiap gerak-gerik seorang muslim wajib berlandaskan aturan-aturan syar’I dan berada dalam ruang lingkup adab-adab Islami.
ASAL USUL SANDIWARA
Sandiwara pada awalnya merupakan bagian dari ritual orang-orang Yunani yang menganut paganisme ( penyembahan kepada berhala ) sebagaimana dalam Mu’jam Mufashshal 2/1149-1150 .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan dalam kitabnya Iqtidha’ Shirathal Mustaqim 1/478 apa yang dilakukan oleh orang-orang Nashara pada perayaan hari raya mereka, mereka mengeluarkan daun-daun Zaitun dan yang semisalnya dengan maksud untuk menyerupai perbuatan Al-Masih ketika masuk ke Baitul Maqdis.
Kemudian berkembanglah sandiwara ini di gereja-gereja sebagai bagian dari ritual gereja dengan nama tragedi dan teater.
Pada abad kelima belas Hijriyyah sekarang ini berkembanglah model-model sandiwara Islami di lembaga-lembaga pendidikan Islam bahkan di jama’ah-jama’ah dakwah, bahkan banyak dijumpai group-group teater “ Islami “. Mereka tidak segan-segan memerankan para tokoh-tokoh Islam dari kalangan ulama terdahulu sampai para sahabat, bahkan para nabi dan malaikat !.
MACAM-MACAM SANDIWARA
Sandiwara secara umum terbagi menjadi dua bagian :
1. Sandiwara agama yang terbagi menjadi dua :
a. Tragedi, untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa duka.
b. Teater
2. Sandiwara yang bersifat hiburan terbagi menjadi dua :
a. Komedi, untuk menggambarkan hal-hal yang lucu.
b. Melodrama atau Drama, untuk menggambarkan hal-hal yang menegangkan.
Kemudian berkembanglah nama-nama Islami untuk model-model sandiwara, seperti sandiwara Islami, teater Islami, sinetron Islami, drama Islami, …
SYUBHAT-SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Di antara syubhat-syubhat mereka-mereka yang membolehkan sandiwara sebagi sarana dakwah :
1. Mereka mengatakan hukum sandiwara pada asalnya mubah.
2. Mereka mengatakan sandiwara adalah salah satu sarana tarbiyah dan pendidikan.
3. Mereka mengatakan bahwa sandiwara adalah salah satu sarana untuk menampakkan keagungan Islam dan keagungan tokoh-tokohnya.
4. Mereka mengatakan bahwa sandiwara salah satu bentuk permisalan, sedangkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah banyak terdapat permisalan-permisalan.
5. Mereka mengqiyaskan sandiwara dengan penampakan malaikat Jibril kepada Rasulullah dalam wujud seorang manusia.
Maka jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat di atas adalah :
1. Pendapat yang mengatakan bahwa hukum asal sandiwara adalah mubah tidak bisa diterima, karena sandiwara haram dari asalnya, asalnya adalah dari peribadahan paganisme Yunani dan Nashara, sedangkan Islam berlepas diri darinya.
2. Pendapat yang mengatakan bahwa sandiwara adalah salah satu sarana tarbiyah dan pendidikan adalah pendapat yang keliru, karena sarana tarbiyyah tidak boleh mengandung kemungkaran, sedangkan dalam sandiwara di dalamnya begitu banyak kemungkaran-kemungkaran sebagaimana dalam uraian terdahulu.
3. Pendapat yang mengatakan bahwa sandiwara adalah salah satu sarana untuk menampakkan keagungan Islam dan keagungan tokoh-tokohnya, maka ini juga pendapat yang salah, karena sarana-sarana untuk mendukung agama harus lepas dari segala kebid’ahan dan hal-hal yang baru. Dakwah ilallah adalah tauqifiyyah ( wajib berdasar kepada dalil ) dalam sarana dan tujuannya, sedangkan sandiwara adalah perkara baru dan bid’ah.
4. Adapun mengqiyaskan sandiwara dengan permisalan-permisalan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka ini adalah qiyas yang rusak karena adanya perbedaan antara kedua hal yang dikiaskan, karena permisalan-permisalan dalam Kitab dan Sunnah adalah berupa perkataan, sedangkan sandiwara adalah perbuatan, lalu bagaimana keduanya dikiaskan. Kemudian permisalan-permisalan dalam Kitab dan Sunnah adalah suatu kebenaran, sedangkan sandiwara adalah kedustaan-kedustaan.
5. Adapun mengqiyaskan sandiwara dengan penampakan Jibril kepada Rasulullah dalam wujud seorang manusia, maka ini juga qiyas yang rusak dengan perincian-perincian di bawah ini :
Bahwasanya kemampuan untuk berubah menjadi wujud yang lain adalah termasuk kekhususan alam ghaib dari alam nyata, Alloh telah memberikan kemampuan kepada para malaikat untuk menjelma menjadi wujud-wujud yang lain dengan dengan penjelamaan yang sempurna, sebagaimana datang dalam nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah :
Alloh menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Jibril datang kepada Maryam dalam wujud seorang manusia :
فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
“lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.. “ ( Maryam : 17 ).
Malaikat juga pernah datang kepada Ibrahim dalam wujud seorang manusia.
Jibril pernah datang kepada Rasulullah dalam wujud yang berbeda-beda, pernah dalam wujud Dihyah Al-Kalby dan pernah dalam wujud seorang Baduwi.
Alloh juga memberi kemampuan kepada jin dan syaithan untuk menjelma menjadi bentuk manusia atau binatang.
Seperti datangnya syaithan kepada orang-orang musyrik pada waktu perang Badar dalam wujud Suraqah bin Malik.
Jin bisa menjelma menjadi anjing atau ular dan sebagainya.
Maka ini semua adalah perubahan wujud yang sebenarnya yang Alloh taqdirkan pada alam ghaib dari para malaikat, jin dan syaithan, semua itu sebagai ujian dan hikmah-hikmah lain di sisi Alloh , kemampuan untuk penjelmaan yang sempurna ini tidak pernah terjadi pada seorang manusia di alam nyata, tetapi hanya berlaku bagi alam ghaib.
Karena inilah maka mengqiyaskan alam nyata atas alam ghaib adalah qiyas yang rusak. Wallohu A’lam.
( Pembahasan ini disarikan dari kitab At-Tamtsil oleh Syaikh Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid cetakan pertama tahun 1411 H ).
PENUTUP
Sebagai kesimpulan bahwa sandiwara pada asalnya adalah ritual paganisme Yunani dan Nashara, jika dia dijadikan sebagai sarana dakwah maka dia adalah sarana yang bid’ah yang diharamkan oleh syari’at, karena ibadah adalah tauqifiyyah, yaitu wajib berlandaskan atas nash yang shahih.
Sandiwara tidak pernah lepas dari kedustaan, sedangkan dusta adalah perbuatan yang diharamkan, dan jiwa manusia wajib dibiasakan berbuat jujur dan meninggalkan kedustaan, maka cerita-cerita dusta akan melatih jiwa untuk berdusta dan tidak meninggalkan perbuatan dusta.
Jika sandiwara ini menggambarkan suatu kejadian nyata maka ini termasuk المحاكاة ( menirukan perbuatan orang lain ) yang dilarang secara mutlak oleh Rasulullah dan merupakan pelanggaran kehormatan yang diharamkan.
Sandiwara juga merupakan sarana perusak aqidah dan akhlaq manusia dan sekaligus merupakan penyebar kemaksiatan-kemaksiatan.
Maraknya sandiwara, teater, dan yang semisalnya di kalangan kaum muslimin merupakan bukti kerusakan umat Islam, bahwasanya mereka tenggelam dalam permainan dan kelalaian, dan lemah dalam agama, kosong dari ilmu syar’i dan malas untuk mempelajarinya, maka maraknya sandiwara adalah salah satu dari program musuh-musuh Islam untuk menguasai Islam dengan menyibukkan mereka pada hal-hal yang madharat dan merusak akhlaq mereka.
Perusakan akhlaq adalah salah satu program utama Yahudi sebagaimana dalam Protokolat Zionisme : “ Wajib bagi kita untuk merusak akhlak manusia di semua tempat, sehingga kita mudah untuk menguasai mereka, dinampakkan hubungan sex di bawah terik matahari agar tidak tersisa satupun kesucian dalam pandangan para pemuda, dan jadilah tujuan utama mereka adalah memuaskan nafsu birahi mereka, pada saat itulah longsorlah akhlaq mereka “.
Sejarah membuktikan bahwa tenggelam dalam acara-acara lucu dan pertunjukan adalah salah satu pertanda kelemahan dan kehancuran suatu negara. Inilah Al-Musta’shim khalifah terakhir dari Bani Abbasiyyah di Baghdad dikenal sangat gemar kepada pertunjukan-pertunjukan yang lucu, dan menghabiskan banyak hari-harinya bersama pertunjukan tersebut sebagaimana diceritakan dalam Al-Fakhry hal. 144 dan Tarikh Abil Fida’ 3/176.
Demikianlah jika sunnah telah mati maka muncullah bid’ah-bid’ah, ketika kesungguhan dan azam telah lemah, maka maraklah kelemahan dan kemalasan dalam umat.
Ya Alloh bangunkanlah kaum muslimin dari kelalaian mereka, dan perbaikilah keadaan mereka !.
والله أعلم بالصواب
Comments
Post a Comment