Sepanjang akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, memang telah berkembang sandiwara sandiwara berbentuk Stambul, Ludruk dan Kethoprak, berlanjut dengan kemunculan Orion dan Darnadella yg kesemuanya berfungsi sebagai media hiburan. Namun, eksistensinya kalah setelah masuknya dunia perfilman ke Indonesia. Kedatangan Jepang telah mengembalikan eksistensi dunia persandiwaraan.
Akan tetapi, Sandiwara sandiwara pada masa Jepang memiliki perbedaan dalam hal fungsi dan ideologi dengan masa sebelumnya. Jika pada masa colonial Belanda sandiwara sebagai media hiburan yg membawakan tema-tema hiburan seperti dongeng-dongeng atau cerita lokal Indonesia, maka pada masa Jepang adalah sebagai mediasi propaganda yg sudah pasti membawakan tema-tema propaganda.
Berlanjut pada masa setelah kemerdekaan, Sandiwara masih dijadikan media propaganda dan legitimasi partai politik. Contohnya, partai PNI yg menggunakan Sandiwara untuk kampanye. Fenomena ini terjadi sampai pada masa yg dikenal sebagai peristiwa tragedi nasional 1965. Beragam kesenian yg berkembang sampai saat itu dibubarkan dan beberapa diantaranya membubarkan diri –seperti kelompok Sandiwara di Indramayu. Namun, semangat para seniman tidaklah luntur setelah pembubaran masal itu. Beberapa seniman mencoba meniti kembali dan menghidupkan Sandiwara. Akhir tahun 1960-an merupakan masa kebangkitan kembali kesenian Sandiwara. Menghadirkan kembali wajah perSandiwaraan dengan image dan kesan yang baru.
Pada kenyataannya, sandiwara sebagai seni pertunjukanm dimana dalam pertunjukannya menampilkan lakon drama dan tembang lagu- membutuhkan naskah lakon yang merupakan seni sastra. Sebaliknya, seni sastra sandiwara dapat diimplementasikan melalui sandiwara sebagai seni pertunjukan. Kendati demikian, tidak semua jenis sandiwara menggunakan naskah sebagai kendali cerita dalam pementasannya, karena ada beberapa grup sandiwara yang melakukan pertunjukan dengan cara improvisasi setelah mendapat pengarahan dari sutradaranya, seperti grup-grup sandiwara asal Indramayu.
Kabupaten Indramayu merupakan salah satu wilayah yang memiliki banyak komunitas kesenian seperti sandiwara, tarling, organ tunggal, singa dangdut, sintren, wayang (wayang kulit, wayang cepak, dan wayang golek), barokan, topeng, jidur, dombret dan genjring umbul. Sandiwara di Indramayu merupakan salah satu kesenian yang masih dilestarikan masyarakatnya sampai saat ini. Perkembangan zaman dan persaingan yang semakin kuat tidak menyurutkan semangat para seniman sandiwara untuk terus melanjutkan kiprahnya di belantika dunia perteateran Indonesia.
Musim pesta hajatan, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Di tengah gempuran moderenisasi pertunjukkan hiburan, kesenian tradisional ini semakin memiliki tempat di hati masyarakat Indramayu. Terbukti dengan banyaknya masyarakat yang meminta kelompok kesenian sandiwara tampil dalam acara-acara pesta hajatan. Tak hanya warga di perkampungan tepi sawah, tapi sampai sudut-sudut kota Indramayu.
Primadona rakyat, tidak tergeser oleh hadirnya pertunjukan modern yang menjamur belakangan ini. Apalagi, pengelola grup kesenian sandiwara makin berani berinovasi dengan memasukkan unsur teknologi dalam setiap pertunjukkannya. Misalnya memasukkan lighting atau pencahayaan serta sound effect yang canggih.
Kemudian menambah instrumen musik modern maupun inovasi cerita yang lebih menarik. Semua itu dilakukan agar eksintensi kesenian sandiwara tetap berkembang tanpa meninggalkan ruh budaya dan ciri khas. Kesenian sandiwara memiliki kekuatan pada masyarakat pendukungnya. Di mana dalam setiap pertunjukannya, warga dari berbagi kalangan dan golongan usia antusias untuk menyaksikan. Mereka rela berdesakan untuk menonton lakon yang diperagakan para seniman di atas panggung.
Dukungan serta antusiasisme masyarakat itulah yang membuat kesenian sandiwara terus menancapkan eksistensinya di pentas nasional. “Tak sekadar menjadi primadona di daerah sendiri, kesenian sandiwara juga sudah go nasional. Beberapa grup sudah sering pentas di beberapa wilayah di nusantara.
Dalang sandiwara asal Kecamatan Gunung jati radija, membenarkannya. Pentas di luar daerah kerap dilakoninya. Terutama di daerah-daerah Indramayu dan sekitarnya. Seperti wilayah Jabodetabek, Bandung, Jawa Tengah sampai sejumlah provinsi di pulau Luar Jawa.
“Kemarin di Lampung dua kali pentas di lokasi berbeda. Respons penontonnya juga luar biasa. Kesenian sandiwara memang sudah populer di sana,” ujarnya.
Hiburan yang murah meriah ini, berisi pertunjukan lakon “wayang orang” yang kaya dengan nilai-nilai budaya lokal. Bentuk dari seni pertunjukan tersebut, hampir sama dengan seni pertunjukan yang berasal dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti; ketoprak dan ludruk. Bedanya, kesenian sandiwara Indramayu mengangkat cerita tentang legenda dan sejarah, serta tentang kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Selain itu, bahasa yang digunakan oleh para pemainnya pun menggunakan bahasa khas Indramayu, yang menjadi ciri dari budaya lokal.
Kesenian sandiwara ini, telah dikenal oleh masyarakat Indramayu sejak tahun 1960-an. Pada saat itu, mulai banyak terbentuk kelompok-kelompok sandiwara, yang menggelar pementasan di wilayah Indramayu. Masyarakat setempat mempercayai, jika kesenian sandiwara pada awalnya merupakn salah satu media siar Islam, yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di wilayah pesisir Indramayu dan Cirebon. “Konon dahulu, Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam melalu seni pertunjukan, dengan menyebarkan syair-syair Islam kepada masyarakat. Dimana masyarakat yang hendak menonton tidak dipungut biaya, melainkan memakai kalimat syahadat saat hendak menyaksikan pertunjukan”.
Di antara sekian banyak ragam kesenian tradisionil yang hingga kini masih eksis di masyarakat Kabupaten Indramayu, Jawa Barat adalah Seni Sandiwara. Sebuah kesenian rakyat yang menampilkan alur cerita sejarah atau asal usul daerah yang diiringi suara gamelan para nayaga.
Fenomena budaya ini juga terjadi di wilayah kabupaten Indramayu. Berdasarkan administratif, wilayah Indramayu termasuk wilayah Jawa Barat dg etnis Sunda. Meski demikian, Indramayu bukanlah wilayah yg semua masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-harinya.
Masyarakat Indramayu hampir secara keseluruhan menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-harinya seperti halnya masyarakat Cirebon. Hal ini dikarenakan letak geografis wilayah Cirebon dan Indramayu sebagian merupakan wilayahnya pesisir pantai utara yg strategis sebagai sentral perdagangan.
Masuknya Islam pada abad ke-15 sampai ke-16, diantaranya lewat syiar Islam Sunan Gunung Djati yg menggunakan bahasa Jawa semakin mempertegas pengaruh Jawa secara kebudayaan di wilayah tersebut. Oleh karenanya, Cirebon dan Indramayu memiliki dua bahasa ibu, yakni bahasa Sunda dan Jawa.
Kabupaten Indramayu juga merupakan salah satu wilayah yg memiliki banyak komunitas kesenian seperti Sandiwara*, tarling, organ tunggal, singa dangdut, sintren, wayg (wayg kulit, wayg cepak, dan wayg golek), barokan, topeng, jidur, daombret dan genjring umbul. Sandiwara* di Indramayu merupakan salah satu kesenian yg masih dilestarikan masyarakatnya sampai saat ini. Perkembangan zaman dan persaingan yg semakin kuat tidak menyurutkan semangat para seniman Sandiwara* utk terus melanjutkan kiprahnya di belantika dunia perteateran Indonesia. Kesulitan dan hambatan memang selalu terjadi dalam jalannya perputaran hidup.
Nah, demikianlah artikel mengenai eksistensi kesenian sandiwara yang dapat saya sampaikan dalam artikel yang berhasil saya buat pada kesempatan kali ini. Terima kasih, karena sobat telah meluangkan waktu sejenak untuk sekedar membaca artikel yang saya buat ini. Semoga saja dengan adanya artikel ini, saya dapat memberikan sedikit manfaat bagi sobat. Dan semoga melalui artikel ini pula, juga dapat menambah wawasan serta pengetahuan bagi sobat.

Comments
Post a Comment