Skip to main content

Aspek manfaat sandiwara




      Aspek-aspek manfaat sandiwara asalah kisah cerita berbentuk naskah sandiwara sebuah naskah sandiwara itu untuk dipentaskan teater yang telah di pimpin,meskipun penulisan ulang itu tidak bisa dianggap sebagai sebuah adaptasi yang baru, karena sejak kemunculan teater modern di Indonesia beberapa grup teater sudah pernah mengadaptasinya ke dalam lakon panggung, kelebihan mulai dari kisah tragedi dalam bentuk komedi, tepatnya parodi sampai pada hal yang menyangkut kondisi keindonesiaan, lewat kritik, budaya lokal, dan upaya hibridasi dari berbagai pengaruh dan budaya, baik asinglokal baru-lama, dan sebagainya. sampai engtay ditampilkan berbeda dengan aslinya, atau dari istilah yang disebut dalam naskah tersebut dalam wujud saduran dengan menghadirkan latar sosial budaya dan latar tempat .

      Sandiwara biasanya dari generasi ke generasi, atau bakatnya turun temurun ke anak cucu, setelah mengetahui sejarah singkat dari sandiwara, tidak mudah untuk melestarikan sebuah kesenian daerah, karena lambat tahun jika tidak membuat inovasi-inovasi baru dan perbaikan dalam semua aspek dalam sandiwara, tidak kemungkinan kesenian ini akan ditinggalkan dan tergantikan oleh kebiasaan dari barat latar budaya Betawi dan kondisi batavia pada awal abad ke 20 menjadi latarnya yang berbeda dengan dongeng, latar waktu Indonesia pada awal abad ke 20 adalah awal munculnya benih-benih nasionalisme dan kesadaran kebangsaan dan pendidikan,di sisi lain dalam naskah sandiwara tersebut, gaya dan nada kocak, satir dan komedi hadir mewarnai teksnya, yang tentu saja berbeda dengan nuansa asli dari kisah cinta tak sampai itu yang dikategorikan sebagai lakon tragedi meski demikian prinsip dasar cerita yang mengungkap tentang nilai universalitas manusia tentang pengorbanan, cinta, dan kematian, tidak banyak berubah sebagaimana naskah sandiwara naskah tersebut juga ditulis khusus untuk pentas Teater dalam sepanjang naskah ini, memang dipenuhi dengan detail pementasan, bahkan juga intrik-intrik dalam keseharian Teater di luar panggung, sebagaimana muncul naskah Sampek dan engtay sudah dipentaskan berkali-kali oleh Teater dan sudah mengalami berbagai pencekalan selama orde baru naskah ini pertama kali dipentaskan Teater di dalam gedung Kesenian selama 18 hari sebelum pentas perdana sempat diinterogasi oleh bakin/Badan Intelijen, karena pada masa itu huruf cina, Tari Naga dan Barongsai, dilarang diperagakan di muka publik. Setelah di Jakarta, lakon ini digelar di Surabaya, Semarang, Singapura dalam bahasa Inggris Bandung, Batam, dan Yogyakarta. Semuanya berjumlah 81 pementasan. Sebenarnya akan dipentaskan di Medan pada Mei 1989, tetapi pihak aparat melarangnya. Akhirnya, pada mei 2002, lakon ini bisa dipentaskan di Medan, setelah menunggu selama 13 tahun. Tentu saja, setelah rezim Orde Baru berganti dan iklim kebebasan ekspresi terbuka lebar. Terlepas dari riwayat pementasannya, tulisan ini akan mengkaji naskah sandiwara Sampek & engtay resepsi sastra dengan mengambil fokus pada aspek-aspek penyadurannya, di antaranya adalah mengenai perubahan genre dari prosaik ke naskah sandiwara, adaptasi dengan budaya sasaran, serta strategi parodi di dalamnya. dipilihnya naskah tersebut sebagai objek kajian karena terdapat beberapa hal yang menarik. Pertama isah ini berbentuk komedi dan merupakan parodi dari kisah sampai engtay yang tentu saja bersifat tragedi. Kedua naskah ini disatur dari sampai engtay yang diramu dari 12 versi ke dalam suasana banten dan batavia.

      Penulis menggunakan sandiwara sebagai media pembelajaran keterampilan kebahasaan sandiwara adalah salah satu media pembelajaran yang terbuat dari bahan sederhana. Media ini memberikan pendidikan sekaligus hiburan yang menyegarkan. Pengetahuan juga bisa disajikan dalam bentuk dengan cara ringan sehingga tidak merasa seperti belajar. Karena dibuat sendiri dan setiap saat bisa dikembangkan maka media sederhana ini akan mampu menangkap tren yang disukai anak. Dengan demikian mereka akan mengembangkan kemampuan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Penulis menggunakan sandiwara sebagai media pembelajaran karena didasari beberapa alasan. Pertama dilihat dari segi manfaat bagi lingkungan dan ekonomis yaitu limbah yang semula tidak berharga, setelah dimanfaatkan kembali menjadi bernilai. Kedua dari segi praktis bisa dibawa kemana-mana, sedang dari segi kesederhanaan mudah dibuat oleh siswa. Oleh karena itu melalui media yang menarik diharapkan mampu membuat semangat untuk belajar. Penikmat sandiwara lebih memilih pertunjukan yang dapat dinikmati secara audio visual, seperti sandiwara panggung, film, dan film televisi. Meski demikian, tidak serta merta tidak ada yang tertarik pada sandiwara radio. Ini dibuktikan dengan masih adanya beberapa radio yang memproduksi sandiwara. Salah satunya yang masih konsisten adalah tema yang diangkat dari sandiwara beragam, meliputi keluarga, permasalahan remaja, dan horor. Tidak jarang sandiwara juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga negara bidang kemasyarakatan. Hal tersebut bertujuan untuk membagikan informasi bagi masyarakat yang dimasukkan dalam isi sandiwara. Beberapa contoh naskah sandiwara yang pernah diproduksi adalah Mutiara Kita, Serpihan Kasih, BayangBayang Hitam, dan Bulan dalam Kabut. Semua naskah tersebut merupakan sebagi mengungkapakan nilai edukatif yang terdapat dalam sandiwara.

       Pertunjukan sandiwara tradisional tidak dapat diadakan sembarangan waktu, tetapi harus dipertunjukkan dengan suatu alasan dan maksud yang berhubungan dengan sistem kepercayaan yang ada oleh karena itu pertunjukan sandiwara tradisional tidak dapat dikemas menurut kehendak penonton atau penyelenggara tontonan. Setiap jenis sandiwara tradisional mempunyai ketentuan permainan tertentu sehingga sandiwara tradisional terikat oleh sistem kepercayaan.

       Sebagai salah satu jenis kesenian rakyat Sandiwara memiliki kekuatan pada masyarakat pendukungnya di mana antusiasme masyarakat dengan penuh antusiasme ditunjukkan terhadap sandiwara di daerah tersebut. Hal ini memunculkan banyak ide dan gagasan pada seniman Sandiwar untuk bersaing mengemas pertunjukannya dengan berbagai perbaikan dan modifikasi, pagelaran Sandiwara dapat dirasakan oleh masyarakatnya sebagai sarana hiburan sekaligus pendidikan anda akan dapat menikmati banyak musik Dermayonan sebagaimana sarana edukasi sandiwara juga banyak menampilkan lakon-lakon Babad, baik Babad Cirebon-Dermayon maupun Babad Tanah Jawa seni pertunjukan sandiwara memiliki fungsi sebagai media penerangan masyarakat yang turut menyampaikan pesan-pesan pemerintah dan norma-¬norma adat kemasyarakatan setempat. Hegemoni sandiwara terus berlanjut sampai sekarang ketika kesenian serupa di wilayah Cirebon, redup dan tidak ada regenerasi. Sandiwara Indramayu, jajah budaya hingga ke wilayah sekitarnya.merupakan unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejajar perkembangan manusia sebagai pencipta dan penikmat karya seni. Karya seni dapat dilihat dari bentuk pakaian dan rias, jenis makanan dan hidangan, jenis-jenis pertunjukan.

      Manfaat sandiwara adalah karya yang memiliki daya rangsang cipta, rasa, dan karsa yang amat tinggi. Sesungguhnya, aspek negatif dari sandiwara juga yang memuat teater tradisi yang memiliki fungsi khusus di daerah. hadirnya teater tradisi, seperti makyong, mendu, mamanda, demuluk, dan sebagainya. Teater yang belakang sering disebut sebagai tradisi lisan biasanya membawakan kisah-kisah lokal. Biarpun kisahnya lokal memiliki nilai global. sebagai drama dan sandiwara yang masih patut dilestarikan dan dijaga.

Comments

Artikel Populer

"Sandiwara Radio Reborn " Mengembalikan kejayaan Sandiwara Radio untuk Sosialisasi Bencana

Pernah dengar kisah Brama Kumbara ? Itu lho sandiwara radio yang populer di era tahun 1980-an akhir. Nah semenjak Warkop Reborn sukses, sekarang sandiwara radio juga ikut reborn, tentu dengan cerita dan gaya yang menyesuaikan nuansa jaman. Upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB dalam sosialisasi siaga bencana melalui sandiwara radio pantas diacungi jempol. Tentu BNPB  sudah melakukan kajian yang matang dengan keberaniannya melakukan terobosan dalam melakukan sosialisasi siaga bencana. Sandiwara radio pernah mendapat tempat di hati pendengar Indonesia di era 1980-hingga 1990 an. Apalagi BNPB menggandeng S Tijab, seorang maestro penulis naskah sandiwara Tutur Tinular yang cukup terkenal pada masa itu. Sepertinya romantisme kesuksesan sandiwara radio pada masa itu ingin diangkat kembali oleh BNPB di era globalisasi ini. Saya sendiri ketika sandiwara radio booming pada era 1980an hingga awal 1990an cukup antusias mengikuti ceritanya seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinul...

Sejarah Sandiwara di kota kelahiran saya

Sandiwara Sunda di Majaléngka berkembang sejak awal tahun 1930-an. Seni pertunjukan berbentuk teater ini digemari oleh semua lapisan masyarakat pada waktu itu. Beberapa perkumpulan atau grup kesenian sandiwara Sunda pernah berdiri, antara lain di Jatiwangi (Mirah Delima, Medal Kawangi, Kutawaringin), Majaléngka (Budaya Sunda), Dawuan (Gaya Remaja). Di Darmalarang, Malongpong, Munjul, dan Karayunan pun pernah pula berdiri beberapa kelompok sandiwara. Himpunan Barudak (HB) adalah kelompok sandiwara yang pertama kali berdiri di wilayah Majaléngka. Kelompok ini dipimpin oleh Karma Al Habe dari Gandu Kecamatan Dawuan. Pada perkembangan selanjutnya kelompok ini mengganti nama menjadi Gaya Remaja dan bermarkas di Kasokandel. Pada tahun 1960 sampai tahun 1980-an di Kadipaten dan Majaléngka pernah berdiri gedung-gedung pertunjukan Sandiwara. Gedung pertunjukan yang pernah berdiri di Kadpaten bernama Serbaguna. Beberapa kelompok sandiwara yang melakukan pertunjukan di gedung ini antaranya ...

Kesenian Tradisional Cirebon Yang Hampir Punah

Cirebon  selain terkenal akan kesultanannya juga lekat dengan berbagai kesenian rakyat. Sayangnya beberapa kesenian tradisional ini hampir punah karena tergerus jaman. Kesenian tradisional ini dulunya digunakan oleh  Sunan Gunung Jati  dan Wali Songo lainnya untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Selain itu kesenian ini juga digunakan sebagai alat diplomasi ketika Kesultanan Cirebon terancam kalah oleh serangan kerajaan lainnya. Oleh karena itu patut bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang  kesenian tradisional        Cirebon  yang hampir punah ini. Minat generasi penerus yang kurang hingga tergerus oleh kesenian modern lainnya, membuat pelaku seni tradisional ini kian sedikit dan sampai sekarang hampir punah. Misalnya Tarling yang terkenal di tahun 50-an mulai tergerus jaman seiring hadirnya musik dangdut. Selain tarling ada beberapa  kebudayaan Cirebon  dan tradisi Cirebon yang hampir punah yang akan diulas...