
Era sandiwara tradisi Jawa Barat sepertinya akan terus meredup meski para pelaku dan pengapresiasi masih ada. Minimnya kesempatan untuk tampil membuat sandiwara seakan dianaktirikan.
“Diibaratkeun papatah ‘hirup teu neut, paeh teu hos’. Disebut hirup geus jarang manggung, disebut maot da masih aya hiji dua anu manggungkeun (Sandiwara Sunda zaman sekarang ini ibarat pepatah Sunda, hidup tidak mati pun tidak. Disebut hidup sudah jarang manggung, disebut mati masih ada yang suka manggung)," ujar seniman sandiwara tradisional Sunda, E. Samsudin (64) yang akrab disapa Wa Kabul, seusai menyaksikan pegelaran sandiwara tradisional Masres Eblek Grup dari Desa, Mekarsari, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, di Gedung Kesenian Rumentang Siang di Jalan Baranang Siang Kosambi Bandung, Selasa, 15 Oktober 2019.
Memang bukan cerita yang dikarang oleh Wa Kabul yang hingga kini bertahan di seni tradisi bersama sanggar Sandiwara Sunda Ringkang Gumiwang. Di usia 10 tahun, dirinya mengenal ada sekitar 64 grup sandiwara tradisional Sunda di Kota Bandung dan sekitarnya, kini tinggal grup Ringkang Gumiwang yang dipimpinnya dan Epita yang dipimpin Yayat.
Meski sejak awal ketepurukan seni tradisional Sandiwara Sunda adalah pemerintah, Wa Kabul sepenuhnya tidak mau menyalahkan pemerintah dengan segala wewenang dan kebijakannya. “Saat sandiwara Sunda tengah jaya-jayanya di Tegallega dan Kosambi, oleh pemerintah diburak-barik (dibubarkan) dengan alasan pembangunan dan lainnya, hingga para seniman ditahun 1970an hingga 1980an hanya diberi kesempatan manggung di YPK dan Rumentangsiang,” ucap Wa Kabul mengenang.
Di era TVRI akhir tahun 1970an hingga pertengahan 1980an yang menampilkan Srimulat dengan Ketopraknya, dari Jawa Barat juga diberikan kesempatan untuk tampil rutin dengan Sandiwara Sunda. “Karena banyak manggung di Jakarta, banyak seniman yang hijrah ke Jakarta dan tidak lagi pulang, mereka lebih banyak bergabung dengan Miss Tjitjih dan hanya saya yang kembali pulang,” ujar Wa Kabul.
Niat untuk kembali mengibarkan pamor Sandiwara Sunda bersama Yayat dengan grup Epita dan Wa Kabul Ringkang Gumiwangnya hingga kini terus dilakukan. Salah satu bukti, pertunjukan Sandiwara Sunda Masiytoh yang digelar selama sebulan penuh mampu menyedot 9 ribu lebih penonton. Kondisi serupa bukan hanya dialami Wa Kabul di Kota Bandung, tapi juga di daerah lainnya. “Kami terus melakukan pendataan terhadap kelompok seni sandiwara tradisional yang nyaris dan akan punah disejumlah daerah, seperti Masres dari Cirebon dan Indramayu,” ujar Kepala Seksi Atraksi Seni Budaya UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Iwan Gunawan, ditemui seusai pertunjukan.
Dari hasil pendataan, sekitar 10 grup kesenian Masres yang masih ada pada tahun 2016, kini (2019) tinggal 6 grup yang masih mendominasi panggung teater. Meskipun usia mereka rata-rata sudah tua, namun masih mampu manggung dua kali dalam satu hari di wilayah Indramayu.
Masih bertahanya kesenian teater tradisional Masres hingga saat ini, menurut Iwan, dikarenakan masyarakat masih menggemarinya. Masyarakat bisa bertahan hingga semalam suntuk seperti menyaksikan pegelaran wayang kulit atau wayang golek bila menyaksikan pegelaran Masres dengan lakon mistik atau sejarah masa lalu yang dibumbui bodoran atau lawakan serta lagu-lagu khas Panturaan.
Seperti yang dipertunjukan Eblek Grup dari Desa, Mekarsari, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, dengan cerita Riwayat Ratu Arisbaya Menyerahkan Tanah Sindang Kasih. Secara bahasa dan cerita yang disadur dari Babad Caruban (Cirebon), penonton yang sebagian besar siswa siswi SMU sekitar kawasan Kosambi Bandung kurang memahami, tapi karena gerak lakon dan bahasa yang ditampilkan dirasakan aneh, pertunjukan yang hampir 2 jam mampu memberikan hiburan.
Riwayat Ratu Arisbaya Menyerahkan Tanah Sindang Kasih menceritakan tentang Prabu Geusan Ulun yang membawa lari Ratu Aris Baya, istri muda Sultan Panembahan Ratu dari Kasultanan Cirebon. Tidak ingin terjadi peperangan atas kesalahan Prabu Geusan Ulun, anaknya, Prabu Kusumah Dinata menggantikan Ratu Aris Baya memberikan sebagaian wilayah Kasultanan Sumedang di Sindang Kasih ke Cirebon.
Pagelaran seni dan budaya khas Cirebon yang satu ini sudah simulai sejak dulu dan hingga sekarang menjadi satu pegelaran yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Subang bahkan sampai ke Brebes Jawa Tengah. Grup Sandiwara Jaya Baya pimpinan H Sulama ini akan terus menghibur para penggemarnya lewat cerita-certia sejarah Cirebon.
“Grup Sandiwara Jaya Baya berdiri sejak 30 Mei 1990, dan almadulillah sampai saat ini bisa terus eksis dengan banyaknya grup sandiwara yang mulai bermunculan,” ujar H Sulama.
Jaya Baya, menurut H Sulama, sangat berhubungan erat dengan Grup Sandiwara Prabu Jaya Baya yang saat itu dipimpin oleh (Alm) Wardana yang begitu tenar pada tahun 1980-an, setelah meninggalnya sang pimpinan yakni pada tahun 1990, Prabu Jaya Baya berubah nama menjadi Jaya Baya. “Setelah meninggalnya (Alm) Wardana, grup Sandiwara Prabu Jaya Baya tidak ada yang mengurus, memang saat itu sekitar tahun 1987 hingga 1990, saya menjadi sekretaris grup sandiwara ini, dan setelah itu saya berinisiatif untuk kembali menghidupkan Prabu Jaya Baya, dan mengubah namanya menjadi Jaya Baya,” katanya.
H sulama yang memang sejak 1984 sudah menggeluti dunia peran di pagelaran sandiwara ini memiliki darah seni dari orang tuanya yang memang keluarga besar seniman yang berasal dari Desa Kartasura, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon.
“Darah seni saya merupakan turunan dari orang tua, dulu orang tua saya itu profesinya penabuh gendang, dan darah seni ini juga mengalir pada anak-anak saya, anak saya juga ada yang menjadi pemain sandiwara,” katanya.
Dikatakan H Sulama, perkembangan Jaya Baya sekarang ini sudah mulai pesat, dan pagelaran sandiwara yang identik pada jaman dahulu kala adalah ajang untuk menyampaikan aspirasi dari masyarakat kepada pemerintahan kerajaan. Dan untuk sekarang ini pagelaran sandiwara dikemas dalam satu kemasan cerita sejarah yang cukup menarik. “Sejak dahulu hingga 1948 Sandiwara itu namanya Tunil, dan sejak tahun 1948-1968 Tunil diganti namanya menjadi Masres, dan sejak tahun 1986 sampai sekarang Masras diganti menjadi sandiwara, dan sekarang sandiwara dikemas menjadi tontonan yang menarik karena mampu membawa emosi penonton dengan suguhan cerita-certia bersejarah tentang Babad Cirebon,” katanya.
Perkemangan sandiwara yang sekarang begitu pesat, sangat disayangkan oleh H Sulama, karena pihak pemerintah daerah, terkesan tidak memperhatikan kesenian asli Cirebon ini. H Sulama berharap kepada pemerintah daerah untuk bisa memperhatikan para seniman sandiwara yang hingga saat ini terus mau bermain meski kondisi ekonomi sekarang ini sedang tidak menentu.
“Saya sih minta kepada pemerintah daerah untuk bisa memperhatikan para pemain dan juga grup sandiwara, jangan membeda-bedakan antara sandiwara dengan kesenian yang lainnya, karena walau bagaimana juga sandiwara ini adalah salah satu kesenian asli Cirebon,”
Comments
Post a Comment