Skip to main content

Sandiwara Diera Modern

Di antara sekian banyak ragam kesenian tradisionil yang hingga kini masih eksis di masyarakat Kabupaten Indramayu, Jawa Barat adalah Seni Sandiwara. Seni Tradisional Sandiwara merupakan pentas teater yang menceritakan lakon kisah dan sejarah asal-usul suatu desa dengan berkonsepkan panggung besar di peragakan oleh sejumlah dalang dengan menggunakan pakaian tradisional serta diiringi musik gamelan.

‘Sandiwara Darma Tunggal’, Desa Plumbon, Indramayu. Begitulah tulisan yang tercetak di sebuah papan nama di pinggir jalan raya Desa Plumbon, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Pada jarak sekitar sepuluh meter dari papan nama itu, terpampang papan nama lain bertuliskan ‘Sandiwara Darma Saputra’.

Di sepanjang ruas jalan raya penghubung Indramayu – Jati barang itu, masih terdapat beberapa grup sandiwara lainnya. Kedua grup sandiwara itupun hanya dua dari puluhan grup sandiwara yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Indramayu. SandiwaraSandiwara merupakan bagian tak terpisahkan dari kesenian rakyat Indramayu. Pertunjukkan sandiwara hampir sama dengan ke senian ketoprak di Jawa Tengah, ludruk di Jawa Timur maupun lenong di Betawi. Meski mengalami pasang surut, namun keberadaan sandiwara tetap melekat dalam hati masyarakat.

Hal itu bisa terlihat saat ada nya pertunjukkan sandiwara dalam suatu pesta hajat yang digelar seorang warga. Ratusan warga setempat, dipastikan akan membanjiri untuk menontonnya. Apa lagi, jika pementasan sandiwara itu digelar dalam suatu pesta adat di sebuah desa, maka ribuan warga desa pun akan beramai-ramai untuk menyaksikannya. Bahkan, pagelaran sandiwara hampir dipastikan akan diikuti oleh para pedagang makanan dan baju, maupun orang yang menyewakan mainan anak-anak. Karenanya, pertunjukkan sandiwara akan menjadi pesta rakyat yang semarak.

Suparli Kasim, menjelaskan, sandiwara mulai tumbuh dan berkembang di Kabupaten Indramayu sejak 1940- an. Keberadaannya mendapat pengaruh dari kesenian ketoprak yang ada di Jawa Tengah. Bahkan dari sisi penampilan, sandiwara maupun ketoprak memiliki ke samaan. "Keduanya sama-sama menampilkan drama. Ada dialog dan monolognya, menampilkan tarian dan tembang,". Selain itu, para pemainnya pun menggunakan kostum sesuai jalan cerita yang sedang ditampilkan. MeskiMeski hampir sama, namun ada perbedaan dari sisi isi cerita, gamelan maupun bahasa yang digunakan para pemainnya. Sandiwara menampilkan cerita tentang sebuah sejarah, legenda, babad mau pun mitos, dan biasanya berkaitan dengan sebuah kerajaan atau terbentuknya suatu daerah.

DalamDalam setiap satu kali pementasan, pertunjukkan sandiwara akan berlangsung dalam beberapa babak. Di antara babak-babak tersebut, ada satu babak yang khusus menampilkan humor yang mampu mengocok perut para penonton.

Biasanya, pementasan sandiwara akan dimulai pukul 20.00 WIB dengan didahului oleh penabuham gamelan dan berakhir pukul 03.00 WIB. "Kalau zaman dulu, sandiwara akan berlangsung sampai subuh," 

Supali menambahkan, pada 1940-an, pertunjukan sandiwara masih bersifat sederhana. Kala itu, sandiwara belum ditam pilkan di atas panggung. Penerang yang digunakan pun masih berupa lampu petromaks.

Panggung yang dilengkapi lampu berwarna-warni saat pementasan sandiwara baru ada pada era 1970-an. Selain itu, panggung pun dihiasi dekorasi lengkap dan disesuaikan dengan jalan cerita yang dipentaskan. Supali mengungkapkan, masa kejayaan sandiwara sebagai pertunjukkan rakyat berlang sung pada 1970-an hing ga 1990-an. Kala itu, banyak bermunculan grup sandiwara di berbagai daerah.




Namun, seiring munculnya kesenian hiburan modern, ter utama organ tunggal, pertunjuk kan sandiwara pun mengalami kemunduran. "Sandiwara tidak punah, tidak pernah habis. Ha nya secara kuantitas menurun,"

SupaliSupali menyebutkan, saat ini, hanya tinggal sekitar 50 grup sandiwara yang tetap bertahan. Sisanya, bertumbangan karena tak kuasa melawan derasnya per saingan dengan hiburan mo dern. Dari grup-grup sandiwara itu, tercatat ada beberapa grup yang terkenal di tengah ma sya rakat. Di antaranya grup Gajah Mada asal Kecamatan Sukra dan grup Panglipur Manah asal Ke camatan Lohbener, yang tenar pada era 1950-an.

Pada masa 1960-an, ada grup Darma Saputra asal Plumbon, Kecamatan Indramayu. Pada era 1970-an, muncul grup Budi Suci di Suranenggala, Kabupaten Cirebon dan Candra Kirana asal Gegesik, Kabupaten Cirebon. Adapula grup Indra Putra, asal Cangkingan Kecamatan Karang ampel yang ngetop di era 1980- an. Pada 2014, muncul grup Budaya Pantura di Kecamatan Kroya yang langsung naik daun. saat ini, hanya Sebagian Grup Sandiwara masih eksis, karena mampu dipertahankan masyarakat. Tapi sebagian lainnya mengalami nasib tragis; bubar atau mati karena tidak mampu bertahan.

Para kru Sandiwara sadar, di tengah persaingan yang sangat ketat, Grup Sandiwara harus mampu beradaptasi atau menyesuaikan penampilan dengan keinginan penonton. Sebab penonton itulah yang membiayai kehidupan Grup Sandiwara. “Saat ini masyarakat atau penonton sedang gandrung irama musik Dangdut Dermayonan, karenanya Grup Sandiwara pun harus bisa menyuguhkan musik Dangdut Dermayonan,”




IramaIrama musik Dangdut Dermayonan biasanya tampil sebagai selingan, di sela-sela berlangsungnya alur cerita sandiwara. Irama musik Dangdut Dermayonan dinyanyikan sinden atau seri wanita dalang sandiwara. “Jika Sandiwara tidak bisa menyesuaikan keinginan penonton, maka Grup Sandiwara harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan penonton. Pada akhirnya Grup Sandiwara akan mati atau bubar karena tidak ada yang mengundang untuk pentas,”

Karena itu Grup Sandiwara harus mampu memenuhi keinginan penonton. Walaupun suguhan irama musik Dangdut Dermayonan hanya selingan atau tidak mendominasi, namun hal itu dianggap sudah cukup menghibur para penonton. Memang tidak ada yang salah dari penampilan Sandiwara yang mengalami perubahan penampilan saat ini. Sebab Sandiwara itu merupakan salah satu kesenian yang dinamis.

Meskipun jika ditonton dari kaca mata seni, penampilan Sandiwara zaman sekarang itu sedikit berbeda dari pakem kesenian itu sendiri, namun demi mempertahankan ‘hidupnya’ Sandiwara juga harus bisa mengikuti zaman.

Supali menilai, selain ke mun culan hiburan modern, pe nurunan pamor sandiwara juga disebabkan beberapa hal. Di antaranya, masyarakat menilai mengundang grup sandiwara memiliki kerepotan karena me miliki kru yang berjumlah hing ga sekitar 70 orang. Seluruh kru tersebut, harus ditanggung makan maupun akomodasi lainnya oleh pemangku hajat. Tak hanya itu, tarif untuk mengundang sebuah grup sandiwara juga bisa mencapai belasan juta rupiah.


Hal itu diakui salah seorang anak dari pendiri grup sandiwara Darma Saputra, Plumbon, H Abdul Karim (alm), yang bernama Haribah. Dia menyatakan, warga yang mengundang grup sandiwara memang menurun. Pasalnya, dengan jumlah kru grup sandiwara yang bisa mencapai 70 orang, pemangku hajat akan di buat repot. menurut agus yulianto

Kesenian Sandiwara Cirebon cocok untuk :

- Pembukaan suatu acara

- Penyambutan tamu kehormatan / pejabat

– Peresmian suatu tempat/ perusahaan/ Acara

- Pernikahan/ khitanan adat Cirebon, Jawa Barat/ Nasional

- Gathering

- Silaturahmi

- Undangan dalam rangka kompetisi seni tradisional

- Pentas Seni

- Kesenian yang bertemakan kolosal

- Kenaikan kelas/ pelepasan siswa/ tahun pelajaran baru

- Penyambutan hari besar keagamaan dan Nasional

- Dan lain-lain

Comments