Skip to main content

perbedaan drama dan sandiwara


        Aristoteles Brahim, 1968 menyatakan bahwa drama adalah representation of an action action adalah tindakan yang kelak menjadi akting drama pasti ada akting dalam drama itu terjadi play artinya permainan atau lakon. Jadi ciri drama harus ada akting dan lakon Permainan penuh dengan sandi dan simbol, ayng menyimpan kisah dari awal hingga akhir daya simpan kisah ini yang menjadi daya tarik drama drama yang terlalu mudah ditebak justru kurang menarik.

     Dalam bahasa Jawa, drama sering disebut sandiwara. Kata sandi artinya rahasia, wara menjadi warah berarti ajaran. Sandiwara berarti drama yang memuat ajaran tersamar tentang hidup. Sandiwara dan drama sebenarnya tidak perlu diperdebatkan,keduanya memuat kisah, yang bercirikan dialog. Baik drama maupun sandiwara sama-sama menjadi guru kehidupan ini. Drama itu suguhan seni yang hidup, penuh fantasi. Drama menjadi tafsir kehidupan, yang kadang-kadang melebihi dunia aslinya. Siapapun sesungguhnya dapat bergulat dengan drama. Muhsin 1995 juga banyak mengetengahkan berbagai kelebihan drama. Biarpun bagi seseorang kadang-kadang enggan tampil dan malu-malu menjadi pemain, drama tetap genre sastra yang menarik.

      Drama menurut etimologinya berasal dari bahasa Yunani dram yang berarti ’gerak’. Tontonan drama memang menonjolkan percakapan dan gerak-gerik para aktor. Percakapan dan gerak-gerik itu memeragakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan, karena semuanya sudah diperagakan/ditampilkan secara lengkap di atas panggung.
     Sandiwara berasal dari bahasa Jawa sandi yang berarti ’rahasia’ dan warah yang berarti ajaran Sandiwara berarti ajaran yang disampikan secara rahasia atau tidak terang-terangan karena lakon drama sebenarnya mengandung pesan/ajaran terutama ajaran moral bagi penontonnya. Penonton menemukan ajaran itu secara tersirat dalam lakon drama. Misalnya, orang yang menebar kejahatan akan menuai kehancuran.

     Drama merupakan karya sastra yang ditampilkan dan dipertontonkan untuk menghibur masyarakat,menyatakan bahwa drama merupakan sebuah sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau percakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Dalam perkembangannya, drama mempunyai beberapa bentuk dalam pementasan dan penyajiannya. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung terjadinya perbedaan bentuk drama, diantaranya karena perkembangan jaman yang menuntut manusia untuk berbudaya, kejenuhan para penikmat sastra atau penonton drama karena bentuk-bentuk yang disajikan selalu sama, kekreatifan dan ide-ide para pelopornya. Hal tersebut perlu diketahui oleh para pelajar dan mahasiswa dalam mengetahui bentuk-bentuk dari drama yang dipakai dalam pementasan. Hal ini dimaksudkan untuk mempelajari drama dan untuk membedakan drama yang bisa ditampilkan untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, baik untuk diajarkan atau untuk proses pembelajaran.
    Mempelajari bentuk drama membuat kita lebih paham akan penyajian drama yang tepat untuk ditampilkan dalam situs yang diinginkan mempelajari bentuk-bentuk drama yaitu kita bisa mengatur alur, tempat, penokohan, dan tema cerita yang ingin kita tampilkan sesuai dengan acara atau peringatan tertentu. Hal tersebut tentunya dimulai dari pemilihan bentuk drama yang akan dipakai dalam pementasan.

     Bentuk-bentuk drama memiliki persamaan dan perbedaan pada masing-masing Meskipun demikian bentuk drama tetap tidak sama dalam hal penyajiannya. Dapat disimpulkan bahwa drama itu memiliki ciri khas tersendiri dalam penyajiannya, tidak sama dengan bentuk drama yang lainnya.

     Drama adalah suatu usaha yang dimiliki untuk menampilkan wujud dan rupa sesuatu yang ada, sedangkan bentuk drama adalah suatu wujud dan rupa yang dimiliki oleh drama itu sendiri untuk menampilkan dan memepertahankan eksistensinya dalam suatu karya sastra.

     Dalam mempelajari bentuk-bentuk drama, terdapat beberapa pendapat yang mengemukakan tentang adanya bentuk drama berdasarkan dasar-dasar yang ada pada drama. Menurut Wiyanto 2002:7 Tambajong 1981:24 bentuk-bentuk drama dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan dasar-dasar drama.
sandiwara yaitu semuanya bentuk tontonan yang mengandung cerita. Selanjutnya, drama dapat digolongkan dengan dasar yang bermacam-macam. Salah satunya berdasarkan sarana. Berdasarkan sarana/alat yang digunakan untuk menyampaikan kepada penikmat (penonton, pemirsa, atau pendengar), drama dapat digolongkan menjadi enam jenis, yaitu: drama panggung, drama radio, drama televisi, drama film, drama wayang, dan drama boneka. Penjelasannya sebagai berikut.
     Keduanya memuat kisah, yang bercirikan dialog. Baik drama maupun sandiwara sama-sama menjadi guru kehidupan ini. Drama itu suguhan seni yang hidup, penuh fantasi. Drama menjadi tafsir kehidupan, yang kadang-kadang melebihi dunia aslinya. Siapapun sesungguhnya dapat bergulat dengan drama. Muhsin (1995) juga banyak mengetengahkan berbagai kelebihan drama. Biarpun bagi seseorang kadang-kadang enggan tampil dan malu-malu menjadi pemain, drama tetap genre sastra yang menarik.
     Drama adalah karya yang menurut saya justru memiliki daya rangsang cipta, rasa, dan karsa yang amat tinggi,aspek negatif dari drama juga paling tidak drama kadang memicu penonton untuk meniru. Drama yang sedih, sering mempengaruhi penonton harus menjiwai kesedihan,namun di balik hal negatif ada kemungkinan-kemungkinan lain yang memuat aspek positif drama sebagai berikut.

1) Drama merupakan sarana yang paling efektif dan langsung untuk melukiskan dan menggarap konflik-konflik sosial dilema moral danm personal tanpa menanggung konsekuensi-konsekuensi khusus dari aksi-aksi pemain.

2) Aktor-aktor drama memaksa kita untuk memusatkan perhatian kita pada protogonist lakon untuk merasakan emosi-emosinya dan untuk menghayati konflik-konfliknya yang dimainkan pelaku-pelaku atau tokoh-tokoh drama

3) Melalui tragedi misalnya dengan sedikit terluka di hati dapat belajar bagaimana hidup dengan penuh derita dapat mengajarkan dan memberikan wawasan suatu ketabahan dan dengan kemuliaan dapat menandinginya.
4) Melalui komedi pemeran dapat menikmati sebagai suatu pembukaan tabir rahasia mengenai untuk apamanusia menentang/melawan dan untuk apa pula manusia mempertahankan atau membela sesuatu.

5) Melodrama yang ditulis dengan baik, fantasi, atau farce, dapat mengusir keengganan skepticism memperluas imajinasi kita dan untuk sebentar membawa diri keluar dari diri kita sendiri sehingga tak mengherankan jika drama telah pula dikenal berfungsi terapis.

6) Para psikiatris telah dikenal tahu menggunakan psikodra ma sebagai suatu sarana yang efektif yang dapat membuat pasien dapat mengingat kembali pengalaman masa lalunya.

7) Sosiodrama telah pula dikenal dapat menampilkan suatu fungsi yang sama bagi kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat, misalnya sebagai sarana yang membuat warga masyarakat itu menyimpulkan identitas fiksional yang se. dang mengalami konflik yang tanpa serupa terjadi dalam keluarga dan kehidupan kelompok.

     Seni sandiwar adalah sebuah pertunjukan pentasan sebuah cerita atau disebut pula lakon dalam bahasa jawa Sebuah sandiwara bisa berdasarkan sekenario atau tidak, apabila tidak maka semuanya dipentaskan secara spontan dengan banyak improvisasi ,sandiwara dalam bahasa Indonesia diartikan sama dengan drama sandiwara yang mengacu kepada kesenian pertunjukan teater drama tradisional rakyat Indonesia salah satunya yang terkenal adalah kelompok Sandiwara Sunda, Kisah sandiwara ini dapat bersifat percintaan, komedi, horor, tragedi, atau kisah roman sejarah, sandiwara merupakan jenis drama yang menggunakan percakapan dialog sandwara yang masih tergolong dalam karya sastra karena sandiwara memiliki unsur dari bahsa melayu.

Comments