Skip to main content

Pembelajaran Sandiwara di Sekolah

Proses pembelajaran Sandiwara di sekolah pada dasarnya seperti sama seperti praktek teater profesional. Pembelajaran sandiwara juga adalah proses mematerialisasikan gagasan-gagasan. Hanya saja, secara khusus pembelajaran sandiwara ditujukan untuk mengajar siswa untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasannya itu kepada penonton. Di sinilah letak pergeseran tujuannya. Yaitu, bahwa penekanannya, justru pada pembelajaran.

Oleh sebab itu, guru, akan bertindak sebagai motifator dan instruktur, dan sebaiknya menghindari untuk bertindak sebagai sutradara. Tentunya, proses pembelajaran akan berlansung lebih sempurna, jika siswa sendiri akhirnya mesti menemukan satu pendekatan, metode ataupun bahkan gaya yang tepat untuk keadaannya. Sehingga, proses semacam ini, dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan para siswa sendiri. Yang perlu dievaluasi adalah kesanggupan siswa untuk membangun pertunjukan, sehingga gagasan yang hendak dikomunikasikannnya tersebut sampai dan diterima penonton dengan baik.

Tentu saja di sisi yang lain, sebagai tenaga edukatif, seorang guru dapat menginisiasi terciptanya pilihan-pilihan sistematika, metode, dan bahkan gaya penciptaan produksi Sandiwara sekolah. Proses inisiasi ini tentunya harus sebanding dengan jumlah kuantitatif praktik para tenaga edukatif tersebut, yang selain sebagai sebagai akademisi, sebaiknya juga seniman pelaku. Artinya, ia dapat membuat grup sendiri, sebagai sebuah laboratorium, di luar konteks belajar-mengajarnya. Hal lain yang penting pula untuk dipertimbangkan tentunya peserta proses yang notabene adalah siswa sekolah. Karenanya, segala tujuan produksi Sandiwara, tetap harus didasarkan pada keadaan 'pembelajaran' tersebut.

Pembelajaran Sandiwara di Sekolah, salah satu bentuk praktiknya dapat ditujukan untuk 'pembelajaran sejarah. Produksi semacam ini, dapat mendorong terciptanya daya 'kritis' terhadap sejarah perjuangan bangsa, yang juga dapat menginternalisasikan nilai-nilai kesejarahan tersebut. Secara operasional, produksi sandiwara semacam ini dapat ditujukan untuk:

1. Bagaimana menginisiasi siswa untuk belajar merubah momen-momen sejarah ke dalam bentuk pertunjukan sandiwara; Bagaimana menyusun adegan berdasarkan kronologis momen sejarah tersebut dari fakta- fakta sejarah yang ada.

2. Bagaimana mengajarkan siswa untuk menyutradarai pertunjukan sandiwara yang didasarkan pada fakta-fakta momentum sejarah tersebut, sehingga pertunjukan bisa mengkomunikasikan fakta-fakta yang sejarah, sekaligus mengajarkan peserta proses untuk memerankan mengambil posisi ktitis terhadap momentum sejarah tersebut.

Secara garis besar proses pembelajaran sandiwara ini terdiri atas: (1) menentukan bentuk dan gaya pertunjukan, (2) penyusunan skript dramatik (naskah sandiwara), (3) penyusunan tim kerja, (4) iventarisasi kebutuhan artistik dan tekhnis, (5) penyusunan jadwal.

Pada tahapan perencanaan, Pengajar sekaligus sutradara melakukan pembacaan terlebih dahulu terhadap segala bahan-bahan yang telah dikumpulkan, baik dari anggota tim kerja maupun dari berbagai narasumber, sutradara akan menyusun rencana kerja produksi yang akan digunakan sebagai pedoman bagi pelaksanaan proses.

Setelah itu, yang penting dilakukan adalah membentuk tim produksi. Hal ini sekaligus menjadi cara untuk mengajarkan cara kerja berkelompok, sekaligus dasar-dasar berorganisasi, yang secara lebih khusus adalah organisasi sandiwara sekolah. Kesadaran yang perlu ditransformasikan adalah, bahwa sandiwara adalah kerja kolektif, yang tidak bisa dilakukan secara perseorangan. Maju-mundurnya sebuah Sandiwara Sekolah, sangat tergantung dari kuat dan berjalannya 'tim' yang dibangun ini.

Tim produksi terdiri dari staf produksi dan staf artistik. Berikut anggota nya

A. Staf Produksi

Tim produksi bertugas dan bertanggung jawab untuk mengelola pertunjukan. Bermula dari proses produksi hingga pertunjukan berlangsung. Tugas dan tanggung jawab tim produksi di antaranya meliputi: pembuatan surat pemberitahuan kepada pihak sekolah tentang pertunjukan teater yang akan dilaksanakan di sekolah, pencarian dana, pembuatan publikasi pertunjukan, membantu tim artistik untuk menyiapkan sarana dan prasarana, dan menyiapkan acara pada saat pertunjukan berlangsung.

1. Produser

Produser adalah staf produksi yang pertama kali dalam struktur perencanaan pementasan teater.

Tugas:
1. mengurus produksi secara keseluruhan
2. memilih karyawan
3. menentukan anggaran belanja
4. membuat Program kerja.

2. Sutradara

Sutradara adalah pemimpin tertinggi dalam pelaksanaan pementasan drama, pemilihan naskah, penunjukan pemain, dan pengadaan latihan.

3. Stage Manager

Stage manager adalah staf produksi yang mempunyai tugas membantu sutradara dalam mengkoordinasi seluruh pelaksanaan tugas-tugas teater atau drama.

4. Penulis naskah

bertugas menulis sinopsis yang di kembangkan menjadi skenario dan berisi komentar atau dialog.

B. Staf Artistik

Pementasan perlu adanya sentuhan seni agar pementasan tersebut agar menjadi lebih baik, termasuk dekorasi, tata lampu, kostum, tata rias, dan tata suara.

1. Desainer Dekorasi

Tugas: mengatur dekorasi sesuai dengan tuntutan naskah.

2. Desainer Tata Busana ( Kostum )

Tugas: memilih kostum yang cocok untuk para aktor.

3. Desainer Tata Lampu

Tugas: menyesuaikan cahaya lampu dengan situasi dalam setiap adegan drama.

4. Desainer Tata Rias

Seorang desainer tata rias harus memahami peran dan watak yang akan dibawakan oleh tokoh. Namun, dalam hal ini seorang desainer tata rias tidak boleh berlebihan dalam menerapkan riasan aktor. Hendaknya para aktor dirias dengan riasan yang wajar.

5. Desainer Tata Suara

Tugas:
- memberikan ilustrasi yang memperindah
- memberikan latar belakang
- memberikan warna psikologis
- memberikan tekanan kepada nada dasar drama
- membantu dalam penonjolan lakon
- memberikan tekanan pada keadaan yang mendesak
- memberikan selingan.


Bersama dengan tim produksi, sutradara akan membahas tentang segala aspek produksi untuk mengiventarisasi segala kebutuhan produksi. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan dan membuka masukan-masukan dari tim. Selanjutnya sutradara mempersiapkan berbagai hal yang bersifat mendukung rencananya, seperti pemilihan pemain dan merencanakan anggaran. Masalah fasilitas teknis dan fasilitas produksi juga harus dipertimbangkan dan ditinjau kembali kesiapannya.

salah satu langkah yang penting untuk dilakukan adalah memilih pemain dengan tepat. Pemain dalam drama harus benar-benar menghayati watak tokoh yang dimainkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemain.

1.Kemampuancalon pemain
Berhati-hatilah dalam menempatkan posisi aktor dan aktris. Orang yang ditempatkan untuk posisi aktor/aktris utama sebaiknya punya kemampuan akting yang sangat baik, karena ia akan jadi pusat perhatian hampir di sepanjang pementasan drama.

2. Kesesuaian postur tubuh, tipe gerak, dan suara yang dimiliki calon pemain dengan tokoh yang akan dimainkan.
Misalnya kalau kamu ingin memilih seorang pemain untuk memerankan tokoh pengemis miskin, pilihlah aktor atau aktris yang tubuhnya lebih kurus. Kalau kamu ingin memilih pemain untuk memerankan tokoh seorang raja, pilihlah yang suaranya berwibawa.

3. Kesanggupan calon pemain untuk memerankan tokoh dalam drama.
Kesanggupan erat kaitannya dengan komitmen. Meskipun seseorang punya kemampuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi tokoh utama, tapi kalau ia nggak sanggup untuk latihan rutin, maka sebaiknya, pilih pemain lain untuk posisi itu.

Sebelum produksi, diadakan pertemuan tim dengan tujuan dan mempresentasikan konsep garapan. Setelah konsep selesai, kemudian dilakukan pra-produksi Dilanjutkan dengan proses latihan. Seluruh kegiatan sebelum latihan melalui proses perencanaan. Dalam perencanaan yang harus dikerjakan secara garis besar adalah setelah topik utama dipilih (visi dan misi), kemudian dilakukan penuangan ke dalam naskah, lalu pemilihan tim kerja, perencanaan proses produksi secara rinci, dan selanjutnya rencana proses pelatihan.

Comments