Skip to main content

Lakon Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Walangsungsang

Dalam pertunjukan sandiwara Cirebon saat ini, banyak ditampilkan cerita yang diambil dari babad Cirebon, seperti lakon Nyi Mas Gandasari, Pangeran Walangsungsang, Ki Gede Trusmi, Tandange Ki Bagus Rangin, Pusaka Golok Cabang, dan lain-lain. Sekalipun demikian, sandiwara Cirebon kadangkala menampilkan cerita dongeng atau legenda masyarakat Jawa umumnya, terutama pada pertunjukan berlangsung siang hari. Namun pada malam hari, cerita yang ditampilkan kebanyakan diambil dari babad Cirebon hingga tuntas menjelang pagi.
Lakon nyi mas Gandasari
Ki Gedeng Selan Pandan melakukan tarak tapa di Patapan Gunung Mendang karena menginginkan seorang putra yang dapat meneruskan peran dirinya. Siang malam Ki Gedeng Sela Pandan melakukan tarak tapa sehingga Hyang Murba Wisesa memberinya seorang putri yang kemudian diberinama Nyi Mas Pamuragan. Setelah Nyi Mas Pamuragan agak besar diserahkan kepada Sunan Jati untuk diberi pengajaran dan pendidikan.

Sunan Jati memberi banyak pelajaran kepada Nyi Mas Pamuragan berbagai ilmu yang dapat diandalkan dalam segala hal terutama ilmu kanuragan. Hal ini karena Nyi Mas Pamuragan seorang wanita yang cerdas yang dapat menangkap secara cepat segala pelajaran yang diberikan oleh Sunan Jati, sehingga kepandaian Nyi Mas Pamuragan terkenal ke berbagai negara. Nyi Mas Pamuragan sebagai wanita yang memiliki kesaktian yang luar biasa dan cantik parasnya membuat para kesatria dari di berbagai negara banyak yang tertarik padanya. Banyak lamaran dan pinangan silih berganti datang ke Ki Gedeng Sela Pandan yang bermaksud menjadikan Nyi Mas Pamuragan sebagai calon isterinya, namun lamaran dan pinangan itu selalu ditolak Nyi Mas Ganda Sari. Sebagai wanita yang memiliki kemampuan lebih di atas kebanyakan orang, maka tentu saja Nyi Mas Pamuragan menginginkan pendamping yang dapat memimpin dirinya, hal ini tentu saja harus melalui sebuh ujian dan seleksi yang dapat dijadikan sebagai media untuk tujuan tersebut. Akhirnya Ki Gedeng Sela Pandan atas permintaan Nyi Mas Ganda Sari membuat sebuah syaimbara bahwa barang siapa yang dapat mengalahkan dirinya dalam pertarungan yang diselenggarakan dalam syaimbara tersebut, untuk maksud tersebut, sejumlah pangeran, pendekar, maupun rakyat biasa dipersilakan berupaya menjajal kemampuan kesaktian Nyi mas Gandasari dan barangsiapa dapat mengalahkannya maka dia layak dan berhak menjadi suaminya.

Dengan adanya syaimbara yang di selenggarakan oleh Nyi Mas Gandasari tersebut, maka berdatanganlah Banyak diantara nya pangeran dan ksatria yang mencoba mengikuti nya tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Seperti Ki Pekik, Ki Gede Pekandangan, Ki Gede Kapringan serta pendatang dari negeri Cina, Ki Dampu Awang atau Kyai Jangkar berhasil dikalahkan nya.
Hingga akhirnya Pangeran Soka ( Magelung Sakti ) memasuki arena sayembara. Meskipun keduanya tampak imbang, namun karena faktor kelelahan Nyi Mas Gandasari pun akhirnya menyerah dan kemudian berlindung di balik Sunan Gunung Jati.
Namun, Pangeran Soka terus menyerangnya dan mencoba menyerang Nyi Mas Gandasari dan hampir saja mengenai kepala Sunan Gunung Jati. Tetapi sebelum tangan Pangeran Soka menyentuh Sunan Gunung Jati, Pangeran Soka menjadi lemas tak berdaya. Sunan Gunung Jati pun kemudian membantunya dan menyatakan bahwa tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Namun, kemudian keduanya dinikahkan oleh Sunan Gunung Jati.

Lakon pangeran walang sungsang
Pangeran Walangsungsang pada usia remaja keluar dari istana karena mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dan diperintahkan untuk mencari atau mempelajari agama Islam yang bisa menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Kemudian disusul oleh kedua adiknya.

Setelah melalui perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu tokoh ke tokoh lainnya, sampailah mereka bertiga ke suatu tempat yakni Gunung Jati dan bertemu dengan Syekh Nurul Jati atau Syekh Nur Jati.

Lalu, Syekh Nurjati  mengajarkan dua kalimat syahadat dan mengajarkan ilmu-ilmu lainnya seperti shalawat, zikir, zakat serta lainnya. Setelah dirasa lengkap ilmu yang diajarkan kepada Pangeran Walangsungsang, Pengeran Walangsungsang diberi gelar  Somadullah (orang yang lengkap akan ilmu Allah). Akhir nya Sang Guru kemudian memerintahkan ketiga nya pergi ke Mekah untuk menunaikan Ibadah Haji.Ketika ketiga nya melaksanakan Ibadah Haji di Mekah, rupanya adik Pangeran Walangsungsang dilamar oleh seorang Penguasa Mesir yang dikisahkan baru ditinggal wafat oleh istrinya, dari Mekah Pangeran Walangsungsang kemudian menuju Mesir untuk menyertai adiknya menikah, selepas beberapa Bulan di Mesir kemudian beliaupun kembali lagi ke Pulau Jawa tanpa di sertai adiknya.Di Pulau Jawa, Pangeran Walangsungsang rupanya lebih memilih hidup di Sembung bersama gurunya
Pangeran walangsungsang diberi izin oleh guru nya untuk membuka pedukuhan bersama adik dan istrinya (bernama Endang Geulis) ke arah selatan. Kemudian beliau bertemu dengan Ki Pengalang Alang yang mempunyai kewenangan daerah hutan dan rawa daerah selatan. Setelah datang waktunya, pada Hari Ahad 1 Syuro ia membuka hutan rawa belukar serta menebangi pohon besar dan kecil.

Di tengah kesibukannya menebang pohon, beliau mencari udang rebon yang hasilnya diolah menjadi terasi dengan cara ditumbuk. Lambat laun usaha membuat terasi ini tersebar sehingga banyak orang yang datang ke pedukuhan itu dan membelinya. Bahkan ada yang akhirnya menetap sehingga pedukuhan pun semakin ramai.

Karena semakin ramai, Ki Pangalang Alang  diangkat menjadi menjadi Kuwu (Kepala Desa) dan wakilnya Pangeran Cakrabuana (Walangsungsang). Setelah Ki pangalang alang meninggal, rupanya kemudian Pangeran Walngsungsang mewarisi jabatan sebagai Kuwu Caruban, ia pun kemudian diangkat menjadi Kuwu ke II Caruban. Karena semenjak kecil Pangeran Walangsungsang ini memang orang terpelajar yang biasa hidup di Istana, tata kelola pemerintahan Desa Cirebon pun kemudian beliau kelola dengan baik, sehingga kemudian Cirebon menjelma menjadi sebuah desa yang maju, bahkan menjadi Kota Pesisir utara yang ramai dikunjungi orang.

Setelah berapa tahun lamanya Walngsungsang kemudian  berhasil mengislamkan orang-orang Cirebon, maka setelah itu Pemerintahan di Cirebon  diubah menjadi Islam dan dijadikan pusat penyebaran Islam di Pasundan. Di Cirebon Walangsungsang kemudian membangun istana sebagai tempat pemerintahan, Istana tersebut dinamai Istana Pakungwati, nama yang dambil dari salah satu anak perempuannya.

Cirebon kemudian semakin bertambah terkenal, setelah beliau kedatangan keponakannya Syarif Hidayatullah dari Mesir, anak adik perempuannya yang dahulu menikah saat Ibadah Haji di Mekah.

Dengan dedikasi yang tinggi beliau juga berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berazaskan Islam namun tanpa paksaan kepada rakyatnya. Di sana beliau pun mendirikan sebuah kraton yaitu Kraton Pakungwati yang telah diakui oleh Ayahandanya Prabu Siliwangi. Selanjutnya beliau bergelar Sri Mangana atau Prabu Anom.
Menjelang masa sepuhnya ternyata meskipun beliau dikaruniai 8 anak ternyata semuanya perempuan, oleh karena itu beliau menikahkan anak kesayangannya Nyimas Pakungwati dengan keponakannya Syarif Hidayatullah, beliaupun kemudian mengundurkan diri sebagai penguasa Cirebon dan mengangkat keponakannya itu menjadi penguasa Cirebon



Comments

Artikel Populer

"Sandiwara Radio Reborn " Mengembalikan kejayaan Sandiwara Radio untuk Sosialisasi Bencana

Pernah dengar kisah Brama Kumbara ? Itu lho sandiwara radio yang populer di era tahun 1980-an akhir. Nah semenjak Warkop Reborn sukses, sekarang sandiwara radio juga ikut reborn, tentu dengan cerita dan gaya yang menyesuaikan nuansa jaman. Upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB dalam sosialisasi siaga bencana melalui sandiwara radio pantas diacungi jempol. Tentu BNPB  sudah melakukan kajian yang matang dengan keberaniannya melakukan terobosan dalam melakukan sosialisasi siaga bencana. Sandiwara radio pernah mendapat tempat di hati pendengar Indonesia di era 1980-hingga 1990 an. Apalagi BNPB menggandeng S Tijab, seorang maestro penulis naskah sandiwara Tutur Tinular yang cukup terkenal pada masa itu. Sepertinya romantisme kesuksesan sandiwara radio pada masa itu ingin diangkat kembali oleh BNPB di era globalisasi ini. Saya sendiri ketika sandiwara radio booming pada era 1980an hingga awal 1990an cukup antusias mengikuti ceritanya seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinul...

Sejarah Sandiwara di kota kelahiran saya

Sandiwara Sunda di Majaléngka berkembang sejak awal tahun 1930-an. Seni pertunjukan berbentuk teater ini digemari oleh semua lapisan masyarakat pada waktu itu. Beberapa perkumpulan atau grup kesenian sandiwara Sunda pernah berdiri, antara lain di Jatiwangi (Mirah Delima, Medal Kawangi, Kutawaringin), Majaléngka (Budaya Sunda), Dawuan (Gaya Remaja). Di Darmalarang, Malongpong, Munjul, dan Karayunan pun pernah pula berdiri beberapa kelompok sandiwara. Himpunan Barudak (HB) adalah kelompok sandiwara yang pertama kali berdiri di wilayah Majaléngka. Kelompok ini dipimpin oleh Karma Al Habe dari Gandu Kecamatan Dawuan. Pada perkembangan selanjutnya kelompok ini mengganti nama menjadi Gaya Remaja dan bermarkas di Kasokandel. Pada tahun 1960 sampai tahun 1980-an di Kadipaten dan Majaléngka pernah berdiri gedung-gedung pertunjukan Sandiwara. Gedung pertunjukan yang pernah berdiri di Kadpaten bernama Serbaguna. Beberapa kelompok sandiwara yang melakukan pertunjukan di gedung ini antaranya ...

Kesenian Tradisional Cirebon Yang Hampir Punah

Cirebon  selain terkenal akan kesultanannya juga lekat dengan berbagai kesenian rakyat. Sayangnya beberapa kesenian tradisional ini hampir punah karena tergerus jaman. Kesenian tradisional ini dulunya digunakan oleh  Sunan Gunung Jati  dan Wali Songo lainnya untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Selain itu kesenian ini juga digunakan sebagai alat diplomasi ketika Kesultanan Cirebon terancam kalah oleh serangan kerajaan lainnya. Oleh karena itu patut bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang  kesenian tradisional        Cirebon  yang hampir punah ini. Minat generasi penerus yang kurang hingga tergerus oleh kesenian modern lainnya, membuat pelaku seni tradisional ini kian sedikit dan sampai sekarang hampir punah. Misalnya Tarling yang terkenal di tahun 50-an mulai tergerus jaman seiring hadirnya musik dangdut. Selain tarling ada beberapa  kebudayaan Cirebon  dan tradisi Cirebon yang hampir punah yang akan diulas...